Seolah dihadapkan dengan ujung pedang yang siap menusuk dalam hitungan detik. Bau amis tercium besama cairan lengket memeluk kulit. Tawa iblis menggema di telinga, seolah terbiasa ditindas dengan cara beragam. Dalam hati ia meneriakkan nama bunda, bunda yang hilang bertahun-tahun.
Tawa itu masih terdengar dari kejauhan. Meninggalkan sesosok mayat hidup di belakang sekolah. Sekolah sialan yang membiarkan peristiwa keji. Ia terpaksa bolos pelajaran ketiga, seluruh dunia seperti neraka bagi remaja sepertinya. Sebagaimana tunanetra lain, ia ingin bisa melihat pelangi atau senja. Tanpa bantuan tongkat rapuh yang sudah seperti kekasihnya sendiri.
Tangan kurusnya mengobrak-abrik tong, mencari sampah yang masih bisa dimakan dan menemukan roti yang sudah tergigit. Dia hendak memasukkan makanan itu ke mulut tapi tiba-tiba terdengar suara tua memanggil.
"Jangan makan itu, makanlah ini."
Tangan keriput itu menjulurkan sebuah apel. Memungut roti busuk yang masih utuh di tangan si gadis. Ia pamit, meninggalkan gadis yang masih terpaku. Gadis itu tahu hari masih siang saat terdengar azan dan kepalanya merasa pusing, sepertinya matahari berada di posisi puncak.
Ia berkeliling tanpa tujuan, bahkan saat hujan deras melanda. Bukan karena tak punya rumah melainkan tak tahu apa itu rumah. Sampailah ia di sebuah tempat penyeberangan. Sepasang kaki kurusnya memberanikan diri melewati zebra cross. Sebuah mobil mengklakson dengan kasar, tiba-tiba seseorang mendorong dari belakang. Seorang lelaki membantunya berdiri.
"Tidak semua hal bisa kamu lakukan sendiri. Ingat masih ada orang lain."
"Apa seorang seperti kami memiliki hak untuk itu?"
"Permintaan itu akan terdengar baik di telinga yang baik."
Gadis itu termenung, lama memikirkan maksud tutur kata si penolong. Telinganya terbiasa menangkap caci maki.
Dingin mulai menjalari kulit. Ia mengenyahkan berbagai pikiran rumit. Menapakkan kaki di sebuah bangunan kecil nan kumuh. Diketuknya tanah, pohon, atau orang dengan tongkat. Sampai tak sengaja mengenai kaki orang di depannya. Orang itu berdecak sebal, menyisakan gumpalan asap tembakau memenuhi ruangan.
Beranjak mandi lalu belajar lagi, mengeluarkan buku braille dari tas. Membuka halaman demi halaman yang sudah tak asing. Entah keberuntungan atau kesialan yang membawanya masuk ke sekolah biasa dengan sertifikat juara tari tunggal yang tak pernah dianggap.
Berbagai pikiran telah mematikan konsentrasi membacanya. Menari adalah pilihan terakhir. Meski sudah larut malam ia susah untuk tidur. Insomnia akut membuatnya terjaga. Ayunan tangan di udara dan langkah kaki ringan sambil mendengar alunan musik. Dia menikmati saat tubuhnya berayun dalam tempo yang ajek. Hingga jatuh tertidur akibat kelelahan.
Hari sudah siang bolong saat dia bangun, dalam lubuk hatinya niatan sekolah seperti terkubur. Ia memilih pergi ke tempat les menari, satu-satunya cara menyembuhkan luka batin. Dengan sikap canggung, mengayunkan tongkat berharap tidak memukul orang asing. Ada banyak ruangan seperti labirin luas yang menyesatkan.
Hampir setiap hari murid berdatangan, telinganya seperti mau berdarah sebab sensitif, mendengar polusi suara dari segala arah. Entah kesialan apa lagi yang akan menimpanya. Setelah kaki keseleo saat berlatih, gadis itu tergeletak di lantai seperti boneka usang.
Kemudian suara yang tak asing, merambat ke telinga. Bertanya apa dia baik-baik saja sambil meraih lengan gadis itu.
"Kamu yang tempo hari kan? Punya akses masuk ruang privat juga?"
"Iya."
"Hebat."
"Aku?"
"Tidak ada orang lain di ruangan ini. Aku Zev Rafindra."
"Yunjin Artha."
"Nama yang bagus."
Pujian itu terdengar manis.
Zev tetap tinggal di ruangan itu bersama Yunjin. Mengajarinya gerakan baru yang luar biasa anggun. Bagi orang biasa mungkin terlihat hanya sebuah tarian. Namun, bagi seorang Yunjin itu adalah kemegahan universal yang tak ada bandingan. Bisikan hatinya berterima kasih pada seorang lelaki yang kini sedang mengarahkan alat geraknya dengan lembut.
Yunjin mengucap terima kasih sesingkat mungkin, seperti tidak pernah bersosialisasi selama hidup. Terkungkung dalam kamar gelap. Ia membereskan barang-barang, meninggalkan tempat itu dengan perasaan gundah. Pagi maupun malam tidak ada bedanya bagi Yunjin.
Baru beberapa langkah keluar dari gedung, tawaran tumpangan dari Zev membuatnya gamang. Ia menolak keras meski pada akhirnya laki-laki itu memaksa. Gadis itu mau tidak mau masuk ke dalam mobil. Di tengah perjalanan ia meminta Zev berhenti. Tidak mungkin laki-laki itu tahan melihat rumah reyot dan lingkungan kumuh. Rumah adalah gambaran penghuninya.
Ia menyusuri trotoar dengan badan sedikit berlubang. Kira-kira butuh lima menit lagi sebelum sampai rumah. Jalanan riuh oleh kendaraan padat, bunyi berisik ditangkap telinga yang setajam belati. Tak sekali didengarnya orang di sekitar bergumam soal matanya.
Yunjin tak ada niatan meninggalkan sekolah sepenuhnya. Ia hanya lelah terus tersiksa. Namun pagi ini ia tetap datang, menghela napas panjang sebelum memasuki kelas. Tiba-tiba ia didorong hingga tersungkur. Membuat seragam putihnya kotor terkena debu. Seisi kelas memuntahkan tawa keji.
Ia berusaha berdiri tapi didorong lagi lalu kepalanya dipukul penggaris besi. Tubuhnya ditendang oleh empat pasang kaki. Tak jarang rasa sakit itu berkepanjangan hingga membuatnya sulit bergerak.
Bel masuk berbunyi, semuanya berlari menuju bangku masing-masing. Meninggalkan korban tanpa perasaan berdosa. Yunjin selalu membiarkannya karena mereka anak orang berpengaruh sedangkan dia hanya tunanetra yang beruntung.
Sepulang sekolah tangannya ditarik menuju suatu tempat. Yunjin berani bertaruh bahwa ini sebuah bangunan terlantar di sekitar sekolah. Hingga pada akhirnya ia kembali ditindas. Sepatu Yunjin dilepas lalu mendarat di kepalanya.
Seorang laki-laki berteriak dari kejauhan. Anak-anak perundung itu berlari meninggalkan Yunjin. Telapak tangan halus itu yang belakangan ini selalu membantunya berdiri. Ia bisa mencium aroma parfum si penolong, campuran keberanian dan tanggung jawab.
Selepas itu Zev mengajak Yunjin bermain. Menaiki bianglala dan komidi putar. Baru pertama kali ia bisa tersenyum lebar. Bahkan ia tak mendengar cibiran orang-orang. Sesekali Zev membuat lelucon dan gadis itu tertawa terbahak-bahak. Hari itu seolah mengubah seluruh kehidupan Yunjin untuk selamanya.
Saat perjalanan pulang hujan turun lebih deras dari biasanya. Jarum bening memukul pohon serta atap. Bongkahan es putih memenuhi tanah. Zev terus melempar guyonan yang membuat Yunjin tak kuasa menutup mulut.
Laki-laki itu tidak melihat jalan dengan benar, bagian depan mobil menghantam truk dari arah berlawanan. Tak ada jeda sedetik untuk menghindar. Berita di koran menulis kepala keduanya remuk. Menyisakan genangan darah amis di aspal.
Merbabu, 31 Juli 2022
Andhini Kusuma, Penulis asal Mojokerto, suka menulis dan membaca. Cerpennya dimuat di Radar Mojokerto dan Radar Bromo. Editor : Jawanto Arifin