SEBELUM meninggal, ibu sering berpesan agar aku selalu menjaga hubungan baik dengan semua saudari tiriku. Dan setiap ibu menyampaikan pesannya itu, aku selalu menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
Tetapi ibu tak pernah mengecek apakah aku dan saudari tiriku benar-benar melakukannya atau tidak. Yang ia tangkap setiap kali kami berkumpul adalah sebuah keharmonisan tanpa ada cela sedikit pun.
Suatu hari ketika makan malam baru saja dimulai, salah satu saudari tiriku tiba-tiba menceletuk.
“Rani itu selalu pulang pagi sehabis kuliah. Andaikan Ayah menyewa mata-mata bayaran, Ayah pasti tahu kelakuan busuknya selama ini. Untuk apa pulang pagi, sementara ibu selalu memasak yang enak-enak buat kita.”
Aku menatapnya penuh amarah. Sementara senyum licik menghiasi bibirnya. Kulirik bapak sekilas. Di wajahnya tergambar satu ekspresi kecurigaan. Namun sejurus kemudian, dia tersenyum padaku. Memberi nasihat-nasihat agar jangan sampai aku terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik.
Jujur saja, ingin rasanya kutonjok hidung saudari tiriku itu hingga berdarah. Tetapi jelas itu urung kulakukan. Hanya akan menambah masalah saja apabila itu sampai terjadi.
Begitu juga dengan ibu. Seperti biasa, ia tetap tenang menghadapi situasi macam apapun. Sambil mengelus lembut tangan kiriku yang terkepal di atas meja, ia menggeleng pelan dengan tatapan penuh keteduhan. Hal itu lambat laun mampu membuat emosiku mereda. Jika bukan karena ibu, mungkin ia sudah kuhabisi!
Makan malam berlanjut. Suara sendok dan garpu saling beradu, memukul-mukul dada piring yang bidang. Saudari tiriku yang satu lagi tak mengucapkan kalimat apa pun. Tetapi turut tersenyum sinis.
Itulah kali pertama mereka mulai menjatuhkanku di depan ibu dan ayah. Padahal, jelas-jelas mereka tahu kesibukanku setelah kuliah adalah bekerja paruh waktu di sebuah restoran.
Restoran tutup pukul sebelas malam. Sedangkan butuh waktu untuk menghitung uang hasil penjualan harian. Setelah semua sudah beres, paling tidak aku akan sampai di rumah pukul dua belas malam. Namun, untuk apa itu semua diceritakan? Justru mereka sengaja menyembunyikannya supaya ibu dan ayah membenciku.
Aini dan Aina. Itulah nama kedua saudari tiriku. Mereka kembar indentik. Tetapi tak seperti kebanyakan kembar identik. Misalnya yang satu pendiam, yang satu aktif. Atau yang satu feminim, satunya lagi tomboi. Dan lain sebagainya. Tidak. Mereka justru memiliki perangai yang sama. Sama-sama bersikap sinis dan gemar menjelek-jelekkanku. Tak hanya di depan ibu dan ayah, tetapi juga di depan teman-teman di kampus. Termasuk teman dekatku—Dito.
Aku dan Dito sudah akrab sejak semester pertama. Mulanya persahabatan kami sangat indah. Sampai suatu hari, ibu bertemu dengan ayah yang memiliki dua anak kembar perempuan. Aku lantas dikenalkan ibu pada mereka. Dua bulan berselang, ibu dan ayah memutuskan untuk menikah. Saat itu bersyukur sekali karena keluargaku kembali utuh. Memiliki ayah dan ditambah dua saudari perempuan.
Namun, itu tak berlangsung lama. Apalagi Aini dan Aina ternyata mengagumi Dito. Berbagai cara kerap dilakukan mereka supaya aku dan Dito saling menjauh. Aini pernah memfitnahku telah mencuri uang Dito.
Begitu juga dengan Aina, ia pernah menempelkan beberapa fotoku yang sedang berada di sebuah hotel. Entah bagaimana cara mendapatkannya.
Dito pun melihat foto dengan berbagai keterangan itu, menyebutku sebagai perempuan nakal. Padahal, saat itu aku sedang mengantar adik ibu yang akan menginap di hotel.
Meski Aini dan Aina telah menjelekkanku, aku berusaha terus mengingat pesan ibu agar selalu menjaga hubungan baik dengan mereka. Pula saat aku dituduh merebut Dito. Padahal, jelas-jelas akulah yang lebih dulu mengenal Dito dibanding mereka.
Aku tak habis pikir, entah bagaimana caranya ibu bisa mengenal bapak—yang memiliki anak-anak semacam mereka. Aku terus saja bersabar selama ibu masih hidup dan menemaniku.
Dan perihal pesan yang selalu ibu sampaikan, aku masih memegangnya erat-erat. Semata-mata agar ibu tidak kecewa dan jangan sampai kami menjadi keluarga yang tidak harmonis.
Hari-hari bergulir begitu cepat. Membawa kami menuju keluarga yang benar-benar “harmonis” seperti yang ibu dan ayah lihat. Selama itu pula mereka tak pernah tahu betapa aku, Aini dan Aina, menyembunyikan ketidakharmonisan sedemikian rapatnya.
Sampai hari itu tiba, hari di mana kami semua kehilangan ayah. Aku tak bisa menerima begitu saja atas kematian ayah, karena ulah kedua saudara tiriku.
Entah apa sebab, waktu itu ayah dan ibu terlibat pertengkaran hebat. Aku, Aini dan Aina awalnya hanya sanggup melihat. Namun, saat ayah mulai melayangkan pukulan ke wajah ibu, seketika itu juga aku datang untuk melerai.
Kudorong tubuh ayah agar menjauh. Aini dan Aina tidak terima dan balas mendorongku hingga membuat tubuh ayah terhuyung. Kepalanya membentur tembok dengan keras. Ayah langsung tak sadarkan diri.
Kami segera membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, nyawa ayah tidak dapat diselamatkan. Aini dan Aina seketika mengatakan bahwa akulah penyebab ayah meninggal.
Sejak kepergian ayah, ibu seolah enggan mengurus dirinya. Maka, aku sebisa mungkin mengajak Aini dan Aina untuk bergantian mengurus ibu. Walau awalnya keberatan, tetapi akhirnya mereka mau juga. Mereka mengatakan kalau itu dilakukan bukan karena peduli pada ibu, melainkan tak ada tempat tinggal lain selain di rumah.
Stres berkepanjangan yang didera ibu membuatnya jatuh sakit. Hingga, tak terasa satu bulan ia hanya mampu terbaring di atas kasur. Mau makan dan minum jika berhasil kupaksa.
Namun, tidak dengan Aini dan Aina. Mereka seolah senang jika ibu seperti itu. Meski kondisi ibu tak kunjung membaik, ia tidak ingin dirawat di rumah sakit agar bisa terus melihat anak-anaknya. Memberikan nasihat, terutama untukku supaya tetap menjaga hubungan baik dengan Aini dan Aina. Sampai suatu ketika, saat malam berhujan cukup lama, aku tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
“Aku sudah capek mengurus ibu!”
“Kamu pikir aku tidak capek, hah? Setiap hari harus mendengarkan nasihatnya yang membosankan itu!”
“Kapan dia akan mati?”
“Entahlah. Tapi Ayah sangat menyayanginya. Mungkin ikatan batin antara ibu dan ayah begitu kuat. Bisa saja ayah memohon pada ibu untuk bertahan di dunia.”
“Cih! Sebab itulah sejak pindah ke rumah ini ayah tidak sayang lagi dengan kita!”
Aku segera beringsut pergi dan menjaga ibu lebih ketat. Entah kenapa tebersit sesuatu yang buruk akan menimpanya. Dalam kecemasan yang semakin menjerat itulah, tiba-tiba rasa kantuk datang menyergap. Saat aku membuka mata, ia masih tertidur pulas. Namun, sampai beberapa jam kemudian, ia tidak kunjung bangun juga. Hanya saja, kini ada sesuatu di genggamannya. Ketika kubuka ternyata sebuah foto, memperlihatkan dengan jelas wajah kedua saudari tiriku. (*)
Semarang, Februari 2022 Editor : Jawanto Arifin