Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Subsidi Listrik

Jawanto Arifin • 2023-06-18 17:48:12
Photo
Photo
Oleh: Edna S.




SEDARI dulu aku selalu mewanti-wanti diriku agar hidup janganlah mengemis. Aku paling tidak suka jika seorang pengemis dengan tubuh masih bugar hanya bermodalkan ember plastik yang disodorkan dengan raut wajah mengiba, "Sedekahlah, Pak. Belum makan sesuappun dari pagi."

Kau tahu, justru wajah memelas dan mengiba itu bikinku muak dan ingin sekali menasehati agar berhentilah mengemis. Sungguh, tangan di atas jauh mulia daripada tangan di bawah. Sungguh, mengemis bukanlah pekerjaan.

Cuaca begitu terik siang itu. Aku menelan ludah ketika satu gerobak es cendol parkir tepat di depanku menunggu bus antar daerah. Kurogoh dompetku yang tebal dengan berkas-berkas fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga dan serta surat menyurat lain.

Aku hanya menemukan selembar uang bernominal lima lima puluh ribu rupiah. Sial, uang itu adalah uang mendesak yang harus kugunakan sehemat mungkin.

Terminal bus itu semakin ramai. Seorang ibu nampak kerepotan mengurus tiga anak yang umurnya susun paku. Aku memang sedang sibuk dengan berbagai cabang pikiran. Jika bukan karena anaknya menarik mapku yang sudah rapi dengan berkas-berkas yang  kuajukan ke dinas sosial, mungkin aku takkan membuka obrolan.

"Maaf, ya Pak" sungkan ibunya yang terlihat capek. "Rivai, jangan ganggu paman itu. Sini, ayo!" Aku membalas dengan tatapan penuh senyum pada bocah yang berumur 4 tahun itu.  Matahari terik, gerah, dan kerongkonganku semakin kering.

"Mau ke mana, Bu?" Ujarku sungguh hanya sekadar bentuk rasa basa-basi semata. Akan tetapi, Ibu tiga anak yang barusan menyebut namanya, Farah, malah mengatur posisi duduknya agar semakin dekat padaku.

"Mau pulang, Pak. Aku rencana mau menetap saja di Taratak. Di kota hidup susah, semua serba bayar." Pernyataan itu semakin menamparku mengingat aku gulung tikar untuk mencari peruntungan di kota lima tahun lalu.



"Betul, Bu. Bahkan gaji tukang bangunan jauh lebih kecil ketimbang gaji seorang pengemis." Aku benar-benar iri dengan keberuntungan keluarga pengemis.

"Bahkan, ada beberapa kasus, Pak. Keluarga pengemis jauh lebih kaya ketimbang pegawai kantoran." Celetuk Farah sembari memangku anaknya yang sudah tidur pulas. Dua si kembar masih asik memainkan kerikil kecil di depan terminal bus.

"Bapak mau ke mana?" Kali ini ibu tiga anak yang balik bertanya padaku.

"Oh, saya barusan baru pulang dari kantor Dinas Sosial. Mau ke Pasar Baru." Ujarku sembari menunjukkan kartu antre Dinas Sosial yang sengaja kubawa pulang. Farah mengernyitkan dahi, seakan ingin mengetahui lebih dalam tentang tujuanku ke dinas sosial.

"Apakah ada hasil yang memuaskan sepulang dari sana?" Bahkan aku belum mengatakan bahwa apa tujuanku  mengunjungi Dinas Sosial padanya.

"Tidak." Jawabku sambil mengembuskan napas panjang.

"Dahulu, aku juga pernah ke sana. Mengurus surat keterangan tidak mampu. Anakku yang pertama, jatuh sakit. Kami tidak punya uang, juga tak punya BPJS. Kalau tinggal di kota, memang susah mengajukan apapun. Entah mengapa, jika tinggal di perkampungan sepertinya lebih berpeluang untuk mengajukan nama sebagai keluarga yang tidak mampu." Jelas Farah.

Desau angin kering mengibaskan beberapa lembar kertas yang kuapit di tanganku. Aku menyunging senyum. Setahuku, di kampungku juga masih ada keluarga yang seharusnya bisa dibilang kaya, malah dapat subsidi listrik, BPJS gratis, dan juga bantuan sembako setiap bulannya. Mereka mengaku miskin dan keberuntungan mengaminkannya.



Aku teringat beberapa kali aku mengajukan berkas ke kantor kelurahan, mengeluhkan bayar listrik yang kemahalan. Aku tak masalah jika tak mendapatkan bantuan sosial yang seringkali bikin telingaku pekak, istriku memang tidak menggerutu.

Hanya saja pernyataan,  "Pak, Si Jum yang baru saja menikah dua bulan lalu, Anak Ibu Ida, cerita ia mendapatkan bantuan sosial berkat kegigihannya mengajukan diri ke kelurahan." Istriku, Jumi tahu betul mana kata yang pas untuk kukudap sepulang kerja sebagai buruh karet.

Aku bisa tahan mendengarkan ocehan istriku yang kelewat cerewet setelah aku di-PHK buruh karet. Semakin cerewet, kalau ia sedang masak, sedang mencuci, atau sedang memandang TV yang sering mati ketimbang hidup. Hemat listrik, katanya.

Namun, suatu siang sepulangnya istriku dari belanja di pasar, selepas ia bertemu dengan mertuaku, ia ngelunjak. Marah-marah tak menentu.

"Pak, kita macam hidup di zaman batu. Masak pakai kayu, parut kelapa pakai kukur tangan, menggiling cabai pakai ulekan, nyuci pakai tangan. Tengoklah, Pak. Tetangga kita, Zalimar bahkan bau parfum keluar dari dapur. Pekerjaan dapur pakai listrik, Pak. Kita pungkang langkang hemat listrik!"

Entah apa yang disampaikan oleh mertuaku padanya hingga membuat naga dalam tubuh istriku menjadi ganas dan brutal. Aku sudah menawarkan diri untuk belanja ke pasar hari itu. Akan tetapi, istriku hanya diam sambil merengut keranjang belanja dari tanganku. Lalu membawa dua anak kami bertengger di becak yang ditumpanginya.

Semenjak itu aku melakukan segala hal agar kami tak cekcok lagi perkara listrik. Masa, sumber pemicu pertengakaran selalu listrik? Aku berusaha bekerja menggeluti dua pekerjaan dalam sehari. Dari pagi sampai sore, aku menguli. Malam hari hingga subuh aku membantu sedikit-sedikit, membengkel di bengkel kepunyaan Pak Zar.

Sebulan, aman-aman saja. Istriku tak cari perkara. Sepertinya ia juga ingin mengelak dari pertengkaran masalah bayaran listrik.

Hanya bertahan satu bulan. Rupanya udara malam bikin masalah. Dadaku sakit, aku batuk-batuk, dan asma yang sudah lama tak muncul kembali kambuh. Harapanku satu-satunya, ya 'mengemis' melawan segala prinsip yang kupakai selama ini.



Pertengakaran kembali terjadi. Aku semakin giat lagi, tidak saja mendatangi kantor kelurahan, minta bantu pada seorang caleg yang nyaleg tahun depanpun aku lakukan. Maka, sampailah aku pada masa benar-benar muak, bahkan seorang pengemis saja tak pernah mengemis sedemikian hina ketika menyodorkan ember plastik keberuntungannya.

"Menunggu apalagi! Sudah capek menunggu terus! Lembaran kertas apalagi? Aku tak mengapa tak didata seperti keluarga yang miskin. Biarpun aku miskin, memang. Akan tetapi, aku mondar-mandir tak ada kejelasan begini. Toh, hasilnya kosong. Lompong!"

Aku menepuk meja kantor keluharan. Emosiku benar-benar meledak. Aku capek bermuka yang dimanis-maniskan. Tumpah sudah.

"Jika berani urus sendiri. Pergilah ke Dinas Sosial, minta secara langsung!" Bentak salah satu pegawai kelurahan.

***

"Pak, busnya sudah datang. Boleh saya minta tolong. Ada beberapa barang yang sulit saya tarik ke bus. Bisa bantu, Pak?" Rupanya aku sudah mengilhami lamunan sedemikian alot sedari tadi. Farah menunjuk beberapa koper.

"Sudahlah,Pak. Jangan terlalu dipikirkan. Rezeki, jodoh, maut, sudah ada yang ngatur, toh. Yang penting Bapak sudah usaha." Sambung Farah saat aku kembali bersebelahan duduk di bus denganya dan  dengan ketiga anaknya. (*)

 

*) Tinggal di Sungai Lundang, Pessel, Sumbar; alumnus Universitas Negeri Padang. Ia Menulis esai, cerpen, dan resensi.  Karya-karyanya pernah dimuat berbagai media.
Photo
Photo
Editor : Jawanto Arifin
#cerpen radar bromo