SDN Kedungsupit II, Kecamatan Wonomerto, pernah diguncang masalah kekerasan guru terhadap siswa. Pihak sekolah berusaha membangun kembali keakraban dengan semua anak didik. Salah satunya dengan memberlakukan give me a hug (GMAH) dan TOS sebelum masuk kelas.
Inovasi ini bermula pada 2018. Saat itu, ada siswa kelas IV yang mengalami kekerasan dari wali kelas. Buntutnya, keluarga melaporkan kasus ini ke Polres Probolinggo Kota.
Informasi ini menyebar kepada siswa lain. Hingga akhirnya, satu kelas kompak tidak mau masuk sekolah. Wali murid menyampaikan, mereka baru mau masuk kelas jika wali kelas itu dipindah.
“Cuma waktu itu kami menyampaikan kepada mereka, kami sampaikan dahulu ke pimpinan. Mereka akhirnya mau masuk sekolah,” ujar Kepala SDN Kedungsupit II, Kecamatan Wonomerto, Fitriati Noor Faizah Jamil.
Setelah mereka masuk sekolah, rupanya suasana masih canggung. Mungkin, karena trauma. Siswa tidak mau menjalin komunikasi dengan guru. Akhirnya, Fitriati menyampaikan kepada siswa, jika mereka ingin pindah sekolah, sekolah bisa membantu.
Dari sini siswa mulai terbuka. Agar komunikasi lebih akrab, pihaknya membuat inovasi berupa GMAH dan TOS. Setiap mau masuk kelas, siswa diminta berbaris. Lalu, mereka diberi pilihan, mau berpelukan, berjabat tangan, atau TOS dengan guru sebelum masuk kelas.
Rupanya, sebagian besar siswa memilih berpelukan. Inovasi ini berhasil. Sedikit demi sedikit, siswa mulai membuka diri. Mereka menjadi lebih akrab dengan guru.
“Kami jadi lebih dipercaya oleh masyarakat. Dulu jumlah siswa sekitar 30-an. Sekarang menjadi bertambah. Dua minggu sekolah masuk, masih ada siswa baru,” ujar Fitri. (riz/rud)
Editor : Jawanto Arifin