Dari Kecamatan Pakuniran, Slamet Riyadi dan Siti Nur Seha membuktikan bahwa limbah minyak goreng atau jelantah bisa diolah lagi. Bahkan, tanpa menghasilkan limbah turunan sama sekali alias zero limbah.
Inovasi yang diberi jurul We-Lab (waste to energy lab) itu berhasil mengolah jelantah menjadi dua produk baru. Yang pertama menjadi bahan bakar padat. Lalu, sisa limbah dari pembuatan bahan bakar padat ini diolah menjadi sabun batangan.
“Sabun batangan ini bisa dipakai untuk cuci tangan, juga untuk mencuci piring. Kami sementara waktu tidak menambah minyak esensial pada sabun. Selanjutnya, bisa ditambah minyak esensial agar wangi,” terangnya.
Yang menarik, inovasi Seha (panggilannya) dan suaminya itu sudah dimanfaatkan oleh semua warga di dusun tempat mereka tinggal dengan cara barter. Warga, menurut Seha, menyerahkan jelantah padanya. Lalu, dia mengolah jelantah itu menjadi bahan bakar padat dan sabun batangan.
“Selanjutnya, kalau sudah jadi, kami kembalikan pada warga tadi. Setiap satu liter jelantah dibarter dengan tiga sabun batangan,” tuturnya.
Dari inovasinya itu, menurut Slamet Riyadi, tidak ada limbah sisa yang dihasilkan. Sabun batangan habis dipakai. Sementara bahan bakar padat juga habis saat dibakar.
Sementara dari Kecamatan Wonomerto, ada Kelompok Tani Makmur Satu yang memaparkan tentang cara memperbaiki tanah agar kembali subur dan sehat. Thomas Kristanto ketuanya, memaparkan inovasi “Pembenah Tanah Low Cost Agriculture and Nature (Patalan).”
Inovasi ini dibuat dari seresah bambu dan tanah, kentang yang dikukus, dan air hujan. Hasilnya, diperoleh cairan yang bisa memperbaiki kondisi tanah dengan cara memperkaya mikroorganisme dalam tanah. “Kami sudah ujikan ke lab dan hasilnya aman,” terang Thomas.
Thomas sendiri sudah mengujicobakan cairan itu pada lahan miliknya dan tetangganya. Dia bahkan sudah melakukan uji coba sejak tahun 2019. “Tanah di lahan milik saya saat ini sudah jauh lebih subur. Ini sudah uji coba selama satu tahun,” katanya.
Yang menarik, untuk lahan seluas 1 hektare, dibutuhnya biaya hanya Rp 100 ribu untuk membuat cairan pembenah tanah ini. “Kalau sudah pakai cairan ini, bisa mengurangi pemakaian pupuk sampai 50 persen. Jadi bisa menghemat biaya pertanian,” tuturnya.
Sementara itu, babak paparan dan evaluasi Kamis (20/10) merupakan hari kedua. Ada 15 nomine yang memaparkan inovasi mereka secara bergantian pada tim juri yang terdiri atas lima orang. Selanjutnya, hari ini akan dilakukan paparan dan evaluasi hari ketiga oleh 10 nomine dari kategori bidang agribisnis.
Salah satu tim juri, Prof. DR. Ir. H. R. Abdul Haris, M.M. mengatakan, dirinya mengapresiasi sejumlah peserta yang memiliki inovasi menarik. Dia berharap, semua inovasi nantinya akan ditindaklanjuti.
“Selama ini belum ada lembaga atau instansi yang bertanggung jawab untuk menindaklanjuti inovasi-inovasi yang dihasilkan. Karena itu biasanya, inovasi yang ada berhenti hanya di lomba. Padahal, banyak yang menarik dan bisa dikembangkan. Alangkah bagusnya jika inovasi yang ada ini ditindaklanjuti,” tuturnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin