BANGIL, Radar Bromo— Kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Pasuruan masih menjadi pekerjaan besar. Daerah ini masuk dalam tujuh kabupaten/kota dengan jumlah kasus TBC tertinggi di Jawa Timur.
Anggota Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (Adinkes) Asih Tri Rahmi mengatakan, posisi tersebut menunjukkan kasus TBC di Kabupaten Pasuruan masih cukup tinggi.
Karena itu, penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Butuh langkah cepat agar rantai penularan bisa ditekan.
”Untuk saat ini sudah dirilis bahwa kasus TBC di Kabupaten Pasuruan menempati urutan ketujuh dari 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur. Termasuk tinggi kasusnya, sehingga semua pihak harus bahu-membahu mengatasinya,” terangnya.
Salah satu langkah yang digenjot adalah deteksi dini. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Pasuruan aktif melakukan skrining TBC. Sasarannya sekolah hingga komunitas masyarakat.
Pemeriksaan dilakukan untuk menemukan kasus sedini mungkin. Sebab, semakin cepat penderita diketahui, semakin cepat pula pengobatan diberikan. Langkah itu sekaligus untuk mencegah penularan meluas.
Baca Juga: Skrining Ratusan Warga Bantaran untuk Deteksi Dini TBC
Kepala Dinkes P2KB Kabupaten Pasuruan dr Arma Roosalina mengatakan, skrining dilakukan menggunakan pemeriksaan rontgen atau X-ray.
Metode tersebut digunakan untuk mendeteksi kemungkinan paparan TBC di lingkungan sekolah maupun komunitas.
Skrining ini menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan penyakit. Khususnya di lingkungan dengan tingkat interaksi tinggi seperti sekolah.
“Kami tahu bahwa siswa sekolah memiliki mobilitas tinggi dan interaksi sosial yang padat. Sehingga berpotensi menjadi salah satu kelompok rentan terhadap penularan penyakit menular,” katanya.
Program tersebut tidak hanya menyasar sekolah. Pemeriksaan diperluas ke komunitas masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan.
Arma menyebut, skrining dilakukan di 24 kecamatan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengejar target eliminasi TBC yang menjadi program prioritas nasional.
”Kami lakukan di 24 kecamatan, sekolahan dan komunitas masyarakat demi mempercepat eliminasi TBC. Karena semakin banyak ditemukan semakin bagus untuk kita obati sampai sembuh,” harapnya.
Temuan kasus, lanjutnya, justru menjadi pintu masuk penanganan. Kasus yang terdeteksi dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga potensi penularan berikutnya bisa ditekan. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi