BANGIL, Radar Bromo - Krisis air bersih mulai menghantam 12 desa di Kabupaten Pasuruan.
Sejak akhir Juli, warga di tiga kecamatan itu, harus mengandalkan pasokan air dari BPBD untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap desa mendapat jatah 10 ribu liter air bersih per hari. Pasokan dikirim menggunakan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan, distribusi dilakukan setelah pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat kekeringan melalui SK Bupati.
“Sudah di-SK-kan oleh Pak Bupati, tentang status tanggap darurat kekeringan di Kabupaten Pasuruan. Maka saat ini, distribusi pada desa-desa tersebut terus kami laksanakan,” kata Sugeng.
Sebanyak 12 desa yang terdampak tersebar di Kecamatan Lumbang, Pasrepan, dan Winongan.
Di Lumbang, kekeringan melanda Desa Karangjati, Bulukandang, Watulumbung, Pancur, dan Banjarimbo.
Sementara itu, enam desa terdampak berada di Kecamatan Pasrepan. Yakni Desa Klakah, Ngantungan, Pasrepan, Galih, Sibon, dan Petung. Satu desa lainnya adalah Kedungrejo di Kecamatan Winongan.
Pola distribusi dilakukan dengan menurunkan air di titik yang mudah dijangkau warga.
Dari lokasi tersebut, masyarakat mengambil air menggunakan ember, jeriken, maupun wadah lain yang dibawa dari rumah.
“Jadi, satu desa kita kirimi dua tangki air bersih. Per tangki, isinya ada lima ribu liter. Sehingga satu hari, kita dropping sepuluh ribu liter air bersih,” jelas Sugeng.
Dengan pola tersebut, kebutuhan dasar warga tetap mendapat suplai, meski sumber air di sejumlah wilayah mulai mengering.
Namun, pasokan bantuan tetap membutuhkan pengelolaan agar tidak cepat habis.
BPBD meminta warga menggunakan air secara hemat. Prioritas diberikan untuk kebutuhan pokok seperti minum, memasak, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya.
“Insya Allah selalu tercukupi untuk kebutuhan air bersih warga di masing-masing desa terdampak,” ujarnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin