Mahasiswa Pasuruan Geruduk Polres-DPRD, Tuntut Keadilan Kematian Widi Setelah Ditangkap Polisi

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:00 WIB
KUTUK KEKERASAN APARAT: Aksi BEM Pasuruan Raya saat berada di DPRD untuk menuntut keadilan atas kearian Widi Nurcahyono, Kamis (20/8). (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
KUTUK KEKERASAN APARAT: Aksi BEM Pasuruan Raya saat berada di DPRD untuk menuntut keadilan atas kearian Widi Nurcahyono, Kamis (20/8). (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 BANGIL, Radar Bromo — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Pasuruan Raya turun ke jalan Kamis (20/8). Mereka menuntut keadilan atas kematian Widi Nurcahyono, warga Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, yang diduga tewas akibat kekerasan aparat saat penangkapan dugaan kasus judi online.

Aksi dimulai di depan Mapolres Pasuruan. Massa sempat menutup jalan sebelum bergerak menuju gedung DPRD Kabupaten Pasuruan.

Di sana, kekecewaan langsung menyambut mereka. Gedung dewan kosong. Tidak satu pun anggota Komisi I, yang membidangi hukum dan pemerintahan, hadir menemui mahasiswa.

Orator Komarudin tidak menyembunyikan kecewa. "Komisi I itu bidang hukum, ironis jika tidak mengawal kasus ini. Malah disibukkan dengan pembahasan anggaran. Artinya dewan lebih mementingkan rupiah ketimbang nyawa," tegasnya.

Orator lain, Qois Zauqi, mempertanyakan fungsi Komisi I yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan penegakan hukum. "Hukum itu memberi kepastian dan keadilan. Kenapa Komisi I diam? Padahal DPRD dilantik dengan sumpah atas nama Tuhan," ujarnya.

Baca Juga: Buntut Warga Gununggangsir Tewas usai Ditangkap Polisi: 1 Anggota Reskrim Polsek Beji Dinonaktifkan, 5 Personel Diperiksa

Mahasiswa juga merefleksikan momen aksi yang bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Bagi mereka, kasus Widi mencerminkan kemerdekaan yang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.

"81 tahun Indonesia merdeka, tapi kasus Widi cerminan tidak ada artinya kemerdekaan. Polisinya represif," ujar Qois.

Ia juga menyinggung survei yang menempatkan legislatif sebagai institusi dengan tingkat kepercayaan publik paling rendah.

"Masyarakat diiming-imingi janji. Dewan hanya mngemis simpati, meminta agar dicoblos saat pemilu. Tapi setelah terpilih, masyarakat ditelantarkan jika menghadapi masalah," katanya.

Mahasiswa akhirnya ditemui Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Yusuf Daniyal bersama sejumlah anggotanya. Tuntutan dibacakan di hadapan Yusuf Daniyal.

BENTUK PROTES: Aksi BEM Pasuruan Raya saat turun ke jalan untuk menuntut keadilan atas kearian Widi Nurcahyono, Kamis (20/8). (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
BENTUK PROTES: Aksi BEM Pasuruan Raya saat turun ke jalan untuk menuntut keadilan atas kearian Widi Nurcahyono, Kamis (20/8). (Foto: M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Di antaranya meminta DPRD memanggil Kapolres Pasuruan, mengawal proses pidana dugaan penganiayaan terhadap Widi, dan membentuk tim pencari fakta independen.

Mahasiswa memberi batas waktu tiga hari. Jika tidak ditindaklanjuti, mereka mengancam akan menutup akses masuk gedung DPRD. "DPRD satu-satunya harapan. Kami sudah tidak percaya polisi," kata salah satu orator.

Yusuf Daniyal yang akrab disapa Danil, mengapresiasi kepekaan mahasiswa. "Tugas mahasiswa memang di samping mencari ilmu juga dekat dengan masalah masyarakat. Tuntutan akan kami perjuangkan," ujarnya.

Ia menegaskan, dalam menjalankan tugas, anggota dewan tidak terpaku pada dapil masing-masing.

"Semua punya peran yang sama. Kami pastikan akan mengamati dan mengawal proses penegakan hukum secara adil dan transparan," katanya.

Danil juga mengajak mahasiswa yang hadir untuk mendoakan almarhum Widi. (tom/fun)

Editor : Fandi Armanto
gununggangsir Beji dprd kabupaten pasuruan polsek beji polres pasuruan