Setoran PAD Pasar Daerah Kabupaten Pasuruan Tembus Separo Target, Pasar Gempol Tertinggi Sementara Pasar Cheng Hoo Terendah

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:32 WIB
MENGGELIAT: Aktivitas pedagang di salah satu pasar daerah yang ada di Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, perolehan PAD dari retribusi pasar daerah mencapai 50,52 persen. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
MENGGELIAT: Aktivitas pedagang di salah satu pasar daerah yang ada di Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, perolehan PAD dari retribusi pasar daerah mencapai 50,52 persen. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

BANGIL, Radar Bromo - Setoran pendapatan dari pasar-pasar milik Pemkab Pasuruan baru mencapai Rp2,92 miliar hingga Juli 2026.

Angka itu baru 50,52 persen dari target setahun yang dipatok Rp5,78 miliar.

Capaian tersebut menunjukkan separuh target, memang sudah terkumpul. Namun, kinerja antar pasar masih timpang.

Sejumlah pasar bahkan belum mampu mencapai 50 persen target, meski tahun anggaran sudah memasuki paruh kedua.

Data UPT Pasar Diskoperindag Kabupaten Pasuruan mencatat, dari 15 pasar yang dikelola, Pasar Gempol mencatat persentase realisasi tertinggi.

Setorannya mencapai Rp161,71 juta atau 76,45 persen dari target Rp211,52 juta.

Sebaliknya, Pasar Cheng Ho menjadi titik terendah. Realisasinya baru Rp21,18 juta atau 30,97 persen dari target Rp68,4 juta.

Pasar Pandaan juga masih tertinggal. Dengan target Rp1,34 miliar, realisasinya baru Rp541,01 juta atau 40,35 persen.

Padahal, Pandaan menjadi pasar dengan target penerimaan terbesar dibanding pasar lainnya.

Kondisi serupa terlihat di Pasar Pasrepan. Dari target Rp345,94 juta, baru Rp141,14 juta yang terealisasi atau 40,80 persen. Pasar Grati mencapai 47,14 persen, sedangkan Pasar Wonorejo 50,42 persen.

Kepala Diskoperindag Kabupaten Pasuruan Taufikhul Ghony melalui Kepala UPT Pasar Iwan Wahyudi menyebut secara keseluruhan, capaian saat ini menyisakan sekitar Rp2,86 miliar yang harus dikejar hingga akhir tahun.

Ia mengakui, kondisi ekonomi ikut memengaruhi kemampuan pedagang. Persaingan dengan perdagangan daring juga membuat aktivitas pasar tradisional menghadapi tekanan.

“Memang untuk tertib penarikan ini harus terus dilakukan. Kondisi ekonomi sekarang juga agak lesu. Ditambah, persaingan jual beli online yang semakin berat,” kata Iwan.

Karena itu, pengelola pasar tidak hanya mengejar setoran. Aktivitas kios menjadi persoalan yang ikut dibenahi.

Pengelola melakukan sosialisasi kepada pedagang, agar kios-kios yang masih terdaftar tetapi tidak aktif, kembali dibuka.

Langkah tersebut penting, karena keberadaan kios yang kosong, tidak hanya membuat pasar terlihat sepi, tetapi juga berpengaruh terhadap potensi penerimaan.

“Kami juga terus sosialisasi, supaya kios yang tidak aktif bisa dibuka kembali. Kami dorong agar aktivitas perdagangan di pasar tetap berjalan,” ujarnya.

Namun, pengelola mulai membuka kemungkinan mengambil langkah lebih tegas terhadap kios yang terus tidak beroperasi.

“Kalau memang tidak aktif terus, tidak menutup kemungkinan ada yang ditutup,” kata Iwan. (tom/one)

 

RAPOR RETRIBUSI PASAR

(hingga Juli 2026)

·        Target Setahun: Rp 5,78 Miliar

·        Realisasi: Rp 2,92 Miliar (50,52%)

·        Sisa Target: Rp 2,86 Miliar

 

KOMPARASI KINERJA PASAR

Tertinggi:

·        Pasar Gempol

·        Realisasi Rp 161,71 Juta

·        Target Rp 211,52 Juta (76,45%)

 

Terendah:

·        Pasar Cheng Ho

·        Realisasi Rp 21,18 Juta

·        Target Rp 68,4 Juta (30,97%)

Editor : Jawanto Arifin
pendapatan retribusi kabupaten pasuruan pasar pad