BANGIL, Radar Bromo —Jarak sekitar 500 meter tidak memberi banyak waktu. Di tengah jalur perlintasan langsung (JPL) 105 Bangil, seorang warga berdiri menghadap Kereta Api Sangkuriang yang melaju dari arah timur. Petugas penjaga pintu perlintasan (PJL), Sofi Bahtiar langsung berlari.
Minggu (26/7) sekitar pukul 19.20, Sofi sedang menjalankan tugas di perlintasan sebidang JPL 105, Desa Masangan, Kecamatan Bangil. Kereta Sangkuriang relasi Ketapang–Bandung akan melintas.
Palang pintu sudah ditutup sesuai standar operasional prosedur (SOP). Sofi sempat bersiap menyapa masinis. Namun pandangannya menangkap seseorang berdiri di tengah rel.
Sofi berteriak memperingatkan warga tersebut. Kereta akan segera lewat. Namun peringatan itu tidak digubris. Warga tersebut justru menghadap ke arah kereta.
Sofi tidak sempat berpikir panjang. Dia berlari menuju jalur rel dan menarik tubuh warga itu menjauh. Tarikan pertama belum berhasil. Warga tersebut sempat bertahan.
Sofi kembali menariknya. Keduanya akhirnya terjatuh, hingga warga itu terbentur pohon di sekitar lokasi. Kereta melintas tidak lama kemudian.
"Saya lihat orang itu berdiri di tengah rel. Saya teriaki karena kereta mau lewat, tapi tidak dihiraukan. Malah menghadap ke kereta. Ya langsung saya dekati dan tarik," kata Sofi.
Menurut Sofi, keputusan itu terjadi spontan. Tidak ada waktu untuk menghitung risiko. Meski taruhannya nyawa. "Selamat atau tidak, ya cuma refleks saja," ujarnya.
Warga yang diselamatkan diketahui bernama Dasuki, warga Masangan. Sehari-hari dia mencari barang rongsokan.
Dari informasi yang dihimpun, Dasuki diduga mengalami gangguan kejiwaan. Setelah kejadian, Dasuki dibawa untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit jiwa.
Aksi Sofi kemudian mendapat perhatian Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan Febri Irawan Darwis.
Menurut Febri, tindakan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama, masih menjadi bagian penting dari keselamatan publik.
Dia mengapresiasi keberanian Sofi yang tidak melihat latar belakang maupun kondisi warga tersebut sebelum memberikan pertolongan.
"Yang luar biasa adalah dia sudah peduli sebelum kejadian. Tidak melihat status orangnya. Meskipun kemudian diketahui korban ODGJ, kemanusiaan tetap harus diutamakan," ujarnya.
Peristiwa di JPL 105, sekaligus menunjukkan bahwa keselamatan di perlintasan sebidang, tidak bisa hanya bergantung pada petugas penjaga palang pintu.
Palang pintu berfungsi menghalangi kendaraan dan orang ketika kereta akan melintas. Tetapi fasilitas tersebut bukan jaminan mutlak, bahwa tidak ada orang yang masuk ke jalur rel.
"Karena itu, kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan," katanya.
Febri mengatakan, tanggung jawab keselamatan tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada petugas PJL.
Petugas memang memiliki kewajiban menjalankan SOP. Tetapi masyarakat juga harus memahami risiko ketika berada di sekitar jalur kereta api. (tom/one)
Editor : Muhammad Fahmi