BANGIL, Radar Bromo - Batik tulis dari Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, sudah sampai ke luar negeri.
Tapi perjalanannya tidak pendek. dimulai dari dana CSR sebuah perusahaan swasta pada 2013, lalu tumbuh pelan-pelan bersama ibu-ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak punya penghasilan sendiri.
Nurita, salah satu pembatik yang merintis usaha itu, kini menjual kain batik tulisnya seharga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per lembar, tergantung kerumitan motif dan kualitas kain.
"Alhamdulillah, berkat dukungan pemkab, pasar kami berkembang pesat dan produk kami sudah menembus pasar luar negeri. Pemasaran digital lewat online sekarang menjadi kunci utama penjualan kami," ujarnya.
Senin (15/6), Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan Merita Ariestya meninjau langsung sentra batik tulis di Cangkringmalang, bersama Kepala Diskoperindag Taufikhul Ghony.
Pemkab mencatat, ada 114 pembatik yang tersebar di Kabupaten Pasuruan.
Untuk mendorong mereka naik kelas, pemerintah menyiapkan pelatihan teknis, fasilitasi pameran nasional, hingga kebijakan kewajiban penggunaan batik di lingkungan pemkab. Yang paling ditekankan saat ini, pelatihan jualan online.
"Semua perajin mendapat pendampingan dari dinas terkait. Salah satu yang gencar kami lakukan, adalah pelatihan penjualan secara online. Ini penting, untuk memperluas jangkauan pasar dan mempermudah akses transaksi dengan konsumen luar daerah," jelas Mela-sapaannya.
Ia menegaskan, dukungan itu secara konkret. "Kami memberikan dukungan penuh kepada para perajin batik, mulai dari pelatihan teknis, pameran berskala nasional, hingga kebijakan penggunaan batik di pemkab," katanya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin