BANGIL, Radar Bromo - Peran hulu Sungai Welang sebagai benteng pertahanan awal bagi wilayah Kabupaten Pasuruan kian krusial.
Tak sekadar urusan debit air, keseimbangan ekosistem di wilayah atas kini menjadi harga mati untuk melindungi warga di kawasan hilir seperti Pohjentrek hingga Kraton dari ancaman banjir langganan.
Sebagai bentuk investasi ekologi, sebanyak 6.000 benih ikan tawes ditebar ke aliran sungai.
Langkah restocking ini menjadi upaya untuk memperkuat ekosistem sungai agar tetap hidup dan produktif.
Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono menegaskan, pelestarian lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
Peran masyarakat dinilai krusial, terutama mereka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.
“Menjaga sungai bukan hanya tugas pemerintah atau aparat. Masyarakat sekitar harus ikut merawat ekosistemnya, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga vegetasi di sekitar aliran sungai. Kalau hulunya terjaga, dampaknya akan dirasakan sampai ke hilir,” tegasnya.
Senada, Camat Purwodadi, Mokhamad Sugiarto, menyebut wilayahnya kerap menjadi titik pantau alami.
“Sungai Welang di hulu ini seperti informan. Kalau di sini sudah ada peningkatan debit akibat cuaca ekstrem, wilayah hilir pasti akan terdampak, termasuk potensi banjir,” ujarnya.
Kasi Pemeliharaan dan Rehabilitasi Dinas PU SDA Provinsi Jatim UPT WS Welang Pekalen, Windari Wahyuningsih, memastikan bahwa Sungai Welang masuk dalam radar perhatian prioritas.
Pengelolaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari konservasi DAS kritis hingga penertiban jaringan irigasi.
“Setiap tahun ada agenda konstruksi dan konservasi di wilayah hulu. Ini penting untuk menjaga daya guna air agar tetap optimal dan meminimalisir gangguan sistem secara keseluruhan,” jelas Windari. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin