Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pilih Dilaksanakan di Hotel, Pengukuhan Rektor UNUBA Terkendala Akses Kampus

Muhamad Busthomi • Rabu, 22 April 2026 | 10:07 WIB
PENGUKUHAN: Kegiatan pengukuhan rektor UNUBA yang akhirnya dialihkan ke sebuah hotel di wilayah Prigen. (Istimewa)
PENGUKUHAN: Kegiatan pengukuhan rektor UNUBA yang akhirnya dialihkan ke sebuah hotel di wilayah Prigen. (Istimewa)

BANGIL, Radar Bromo - Konflik internal yang menyelimuti Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA), berdampak terhadap prosesi pengukuhan Ketua Yayasan serta Penjabat (Pj) Rektor dan Wakil Rektor kampus.

Buktinya, agenda yang semula dijadwalkan berlangsung di Kampus II, dialihkan ke Inna Tretes Hotel & Resort karena akses kampus digembok.

Meski berpindah lokasi, kegiatan pengukuhan yang berlangsung Senin (20/4) tersebut, tetap berjalan lancar. Sejumlah dosen, staf, karyawan hingga mahasiswa hadir dalam prosesi tersebut.

Ketua Yayasan Panca Wahana Bangil (Sanpana), Najib Syafi’i, menjelaskan perubahan lokasi dilakukan karena situasi di lapangan tidak memungkinkan.

“Awal kegiatan memang direncanakan di Kampus 2. Namun situasi tak mendukung, karena akses kampus tertutup, mahasiswa tidak boleh masuk, semua tidak boleh masuk. Alhamdulillah kemudian dilaksanakan di hotel Inna ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, meski diwarnai dinamika, proses penataan ulang struktur kepengurusan yayasan tetap berjalan sesuai aturan. Pihaknya juga membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak.

“Semua kita undang, kita legowo apa maunya PCNU, karena kita berjalan sesuai rel dan aturan,” ucapnya.

Dalam konteks kelembagaan, Najib menekankan bahwa posisi pembina merupakan otoritas tertinggi dalam struktur yayasan yang menaungi UNUBA.

Terkait isu penguasaan aset, ia membantah keras tudingan tersebut. Menurutnya, lahan yang digunakan merupakan aset wakaf.

“Aset tanah adalah wakaf. Salah besar jika saya disebut mau menguasai aset besar,” tegasnya.

Di tengah polemik yang berkembang, ia memastikan kegiatan akademik tetap menjadi prioritas utama. Bahkan, pihaknya siap mencari solusi alternatif jika konflik berkepanjangan.

“Kalau tidak boleh ya beli tanah lagi. Jika tidak boleh menempati di situ, kita siap bangun lagi. Yang penting kampus ini benar dan diakui legalitasnya,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk membuka ruang dialog demi menyelesaikan persoalan yang ada. “Mau dialog di mana, mau islah di mana, siap kita,” paparnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#UNUBA #universitas #konflik #kampus #rektor