PANDAAN, Radar Bromo - Tren penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada hewan ternak di Kabupaten Pasuruan, menunjukkan penurunan yang sangat signifikan.
Meski virus yang menyerang kulit sapi ini belum sepenuhnya hilang, jumlah kasus aktif di lapangan kini terpantau jauh lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya.
Data terbaru dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Pasuruan per 15 April 2026 mencatat, akumulasi kasus LSD hanya berada di angka 44 ekor di seluruh wilayah kabupaten.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 ekor dinyatakan telah sembuh. Sementara 28 ekor lainnya, masih dalam masa pemulihan (sakit).
"Kasus LSD memang masih ditemukan. Namun jumlahnya kecil dan trennya turun drastis. Situasinya sangat berbeda dengan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang lebih masif," ungkap drh. Panti Absari, Medik Veteriner Ahli Madya Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Pasuruan.
Hingga saat ini, laporan mengenai ternak yang mati, potong paksa, maupun dijual akibat LSD masih nihil.
Adapun persebaran kasus saat ini, mayoritas terkonsentrasi di lima wilayah. Yakni Kecamatan Sukorejo, Kejayan, Rejoso, Winongan, dan Rembang.
Panti menjelaskan, LSD disebabkan oleh virus yang penularannya diperantarai oleh serangga, khususnya nyamuk.
Secara klinis, gejalanya menyerupai cacar dengan benjolan pada kulit ternak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tingkat kesembuhan LSD jauh lebih tinggi dan proses pengobatannya lebih mudah dibandingkan PMK.
Namun, tantangan bagi peternak kini, terletak pada ketersediaan vaksin.
Jika sebelumnya pemerintah gencar memberikan bantuan vaksin secara gratis, saat ini peternak diharapkan dapat melakukan vaksinasi secara mandiri.
"Penyembuhan dan pencegahan utamanya tetap melalui vaksin. Karena saat ini, sudah tidak ada bantuan (vaksin gratis) dari pemerintah. Kami mendorong peternak untuk melakukan vaksinasi secara mandiri demi melindungi aset ternak mereka," beber dia. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin