Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Muhammad Izzudin Husni, Eks Satpam yang Jadikan Masjid Baitut Taqwa Rumah Kedua, Tak Pernah Merasa Kekurangan

Muhamad Busthomi • 2026-03-14 12:35:00

ISTIQOMAH: Izzudin Husni saat membuka lembaran Al-Quran di Masjid Baitut Taqwa. Sejak menjadi pengurus masjid setempat, ia merasakan ketenangan batin dibanding sebelumnya.
ISTIQOMAH: Izzudin Husni saat membuka lembaran Al-Quran di Masjid Baitut Taqwa. Sejak menjadi pengurus masjid setempat, ia merasakan ketenangan batin dibanding sebelumnya.

DI balik riuh kepulan asap industri dan deru mesin di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), berdiri sebuah oase ketenangan bernama Masjid Baitut Taqwa.

Terletak di lingkungan Kantor Bea Cukai Pasuruan, masjid ini menjadi tempat bagi Muhammad Izzudin Husni menemukan kembali ritme hidupnya yang sempat tercerabut.

Pria kelahiran 1986 itu adalah sosok di balik kesahajaan masjid tersebut. Mengenakan kopiah dan langkah yang tenang, ia kini menikmati perannya.

Namun, jalan menuju rumah kedua ini tidaklah mendatar. Setahun lalu, kehidupan Izzudin berada di persimpangan yang cukup terjal.

Desember 2024 menjadi catatan kelam bagi Izzudin. Setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai petugas keamanan (satpam) di sebuah pabrik plastik di wilayah Gempol, ia harus menelan pil pahit efisiensi karyawan.

Resign di saat beban kebutuhan hidup sedang merangkak naik, terlebih hanya berjarak tiga bulan menuju hari raya Idul Fitri, adalah mimpi buruk bagi setiap kepala keluarga.

“Jujur, waktu itu bingung luar biasa. Anak dua dan istri harus tetap makan, sementara pekerjaan tidak ada,” kenang Izzudin.

Tak mau berpangku tangan, ia mencoba peruntungan di jalanan. Bermodalkan kartu ojek milik orang tuanya yang biasa mangkal di Pertigaan Blawi, Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Izzudin beralih profesi menjadi pengojek pangkalan.

Selama tiga bulan, ia berjibaku dengan debu jalanan demi menyambung napas dapur rumah tangganya.

Titik balik itu datang pada Februari 2025. Seorang pegawai Bea Cukai yang selama ini bertanggung jawab terhadap pengelolaan masjid mendapat tugas pindah ke Jakarta.

Izzudin, yang dikenal memiliki integritas meski hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs), ditunjuk untuk mengurus Masjid Baitut Taqwa.

Ia menggantikan petugas sebelumnya yang tidak bisa mencurahkan waktu penuh karena terikat pekerjaan perusahaan.

Mengurus masjid di kantor pemerintah yang juga terbuka untuk umum, ternyata membawa perubahan besar dalam karakter Izzudin.

Dulu, ia mengaku sebagai sosok yang sulit bangun pagi. Kini, jam biologisnya bergeser drastis. Pukul 03.00, Izzudin sudah terjaga, menyiapkan diri untuk menyambut fajar di masjid.

Rutenya kini terpola rapi. Usai mengawal salat Subuh, ia kembali ke pangkalan ojek hingga pukul 10.00 untuk menambah penghasilan. Setelah itu, sisa harinya ia wakafkan sepenuhnya untuk masjid.

Menjaga kebersihan, menjadi muazin, hingga mengimami salat jemaah saat waktu-waktu luang.

“Akadnya lima waktu setiap hari di sini, kecuali hari libur atau akhir pekan. Memang masjid kantor, tapi musafir dan umum banyak yang mampir,” jelasnya.

Uniknya, saat salat Maghrib atau Isya, Izzudin seringkali hanya ditemani satpam kantor atau satu-dua pegawai yang lembur. Namun, kesunyian itu justru yang ia cari.

Ketenangan yang ia pancarkan, ternyata menarik perhatian. Setelah 2-3 bulan mengurus masjid, tawaran untuk kembali bekerja di pabrik plastik Gempol dengan gaji yang jauh lebih besar sempat datang menyapa. Namun, reaksi keluarga justru di luar dugaan.

Orang tua, mertua, hingga istrinya justru melarang Izzudin kembali ke dunia industri.

Mereka merasa eman jika Izzudin meninggalkan masjid. Kalimat yang selalu terngiang di benaknya, adalah sebuah pilihan fundamental, “Ingin gaji gede atau kejar ketenangan?”

Izzudin memilih yang kedua. Ia meyakini, bahwa dengan ikhlas mengurus rumah Tuhan, rezeki akan datang dari pintu-pintu yang tak disangka.

Dan itu terbukti. Meski pendapatannya tidak sebesar saat di pabrik, kebutuhan istri dan kedua anaknya selalu tercukupi tanpa kekurangan.

“Masjid ini sudah jadi rumah kedua. Di sini saya tidak hanya mengejar pekerjaan, tapi mengejar ketenangan batin yang tidak saya dapatkan saat bekerja di pabrik dulu,” akunya dengan nada lugas. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#ramadan #penjaga keamanan #rumah kedua #satpam #masjid