BANGIL, Radar Bromo - Produksi sampah dari 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan makin tinggi saja. Saat ini, mencapai sekitar 4.700 meter kubik atau setara 1.000 ton per hari.
Kondisi ini mendorong DPRD Kabupaten Pasuruan memperkuat strategi pengurangan residu. Mulai dari pengembangan bank sampah hingga penambahan insinerator.
Sebagai langkah awal, Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan melakukan kunjungan kerja ke Bank Sampah Malang (BSM).
Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dinilai efektif menekan beban tempat pembuangan akhir (TPA).
Di lokasi tersebut, para legislator mempelajari proses pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga, mekanisme penyetoran, hingga sistem insentif ekonomi bagi nasabah.
Konsep bank sampah memungkinkan warga memilah sampah dari sumbernya, disetor, dan bernilai rupiah.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini menyebut, bank sampah memiliki peran strategis dalam mengubah pola pengelolaan sampah dari hulu.
Bukan hanya tempat menampung, tapi juga sarana edukasi sampai tingkat RT dan RW.
“Perubahan perilaku menjadi kunci. Selama ini, pola buang campur masih dominan. Akibatnya, volume sampah yang masuk TPA terus menumpuk tanpa proses reduksi berarti,” kata Zaini.
Dia berharap, pengalaman dari Malang bisa direplikasi di Pasuruan.
Pengelolaan berbasis komunitas terbukti efektif mengurangi timbunan sekaligus memberi nilai tambah ekonomi.
“Kami ingin konsep pemberdayaan ini diterapkan luas. Sampah jangan hanya jadi beban lingkungan, tapi bisa memberi manfaat bagi warga,” ujarnya.
Selain penguatan bank sampah, Pemkab Pasuruan juga merencanakan pengadaan empat unit insinerator pada tahun ini dengan total anggaran Rp 15 miliar.
Fasilitas pembakar sampah modern itu rencananya ditempatkan di Kecamatan Tosari, Puspo, Lekok, dan Bangil yang dinilai memiliki produksi sampah domestik cukup tinggi.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Yusuf Daniyal mengatakan, penambahan insinerator merupakan langkah strategis untuk mengejar target pengurangan sampah daerah.
Menurutnya, pola pengelolaan yang hanya mengandalkan penumpukan di TPA bukan solusi jangka panjang.
“Pengurangan sampah harus jadi prioritas. Insinerator berjalan, bank sampah juga harus dikembangkan. Pendekatan ganda,” tegasnya.
Dengan pendekatan teknologi dan pemberdayaan masyarakat, DPRD berharap beban sampah di Kabupaten Pasuruan dapat ditekan sebelum menimbulkan persoalan lingkungan yang lebih serius. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi