BANGIL, Radar Bromo-Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan hasil revitalisasi gedung sekolah di Pasuruan dan Probolinggo, Kamis (15/1).
Peresmian ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Jatim memperkuat kualitas sarana pendidikan menengah di berbagai daerah.
Di Kabupaten Pasuruan, salah satu sekolah yang direvitalisasi adalah SMA Taruna Madani.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, sekolah tersebut dikenal sebagai satu-satunya SMA Negeri berasrama di Jawa Timur yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan keagamaan. Serta menjalin kerja sama dengan TNI AL dan lembaga keagamaan.
“Pembangunan dan pengembangan fasilitas SMA Taruna Madani dilakukan secara bertahap,” katanya saat peresmian di SMA Taruna Madani, Bangil.
Secara keseluruhan, revitalisasi dilakukan terhadap 15 satuan pendidikan di Pasuruan. Meliputi enam SMA, enam SMK, dan tiga SLB, dengan total anggaran Rp 16,33 miliar.
Selain Pasuruan, revitalisasi juga menyasar wilayah Probolinggo. Total terdapat enam satuan pendidikan yang direvitalisasi di Probolinggo.
Terdiri atas lima SMA dan satu SMK, dengan nilai anggaran mencapai Rp 7,38 miliar. Sehingga, total anggaran revitalisasi sekolah di Pasuruan dan Probolinggo mencapai sekitar Rp 23,7 miliar.
Aries menyebut, seluruh proses pembangunan dilakukan secara akuntabel dengan orientasi utama pada keselamatan dan kenyamanan peserta didik.Harapannya, mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara nasional.
“Ketika bicara pendidikan, tentu bukan hanya membangun gedung saja. Tapi bagaimana membangun harapan dan karakter agar pendidikan di Jawa Timur memberi kontribusi terhadap meningkatnya kualitas pendidikan secara nasional,” katanya.
Sementara Gubernur Khofifah menegaskan, pembangunan sektor pendidikan tidak semata soal infrastruktur.
Menurutnya, gedung sekolah yang layak harus dibarengi dengan penguatan karakter dan prestasi siswa. “Pendidikan harus melahirkan capaian akademik yang baik, sekaligus karakter yang kuat,” ujarnya.
Pemprov Jatim juga mulai mendorong pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan. Salah satunya melalui pemetaan talenta siswa berbasis kecerdasan buatan atau talent DNA yang telah diterapkan di SMA, SMK, dan SLB.
“Program ini ditujukan untuk membantu mengenali potensi dan minat siswa sejak dini agar tidak salah menentukan pilihan pendidikan di masa depan,” katanya.
Sebab, menurut Khofifah, ada riset yang menyatakan, 87 persen mahasiswa merasa salah pilih jurusan ketika sudah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Karena itu, pemetaan potensi talenta dinilai penting agar generasi masa depan tidak salah menentukan pilihan.
“Jadi tim talent DNA itu memanfaatkan analisis DNA berbasis artificial intelligence untuk mendeteksi potensi anak itu di dunia profesi,” bebernya. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi