Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

RSUD Bangil Manfaatkan Teknologi Canggih, atasi Berbagai Kondisi Neurologis dan Psikiatris dengan TMS dan Brain Neurofeedback

Inayah Maharani • Rabu, 19 November 2025 | 18:05 WIB
TEKNOLOGI CANGGIH: Seorang pasien yang sedang di terapi menggunakan TMS di RSUD Bangil.
TEKNOLOGI CANGGIH: Seorang pasien yang sedang di terapi menggunakan TMS di RSUD Bangil.

ALAT-ALAT kedokteran di RSUD Bangil kini semakin canggih dan lengkap.

Sebagai institusi pelayanan kesehatan, RSUD Bangil berupaya untuk terus mengikuti perkembangan teknologi di bidang kesehatan demi maksimalkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

RSUD Bangil saat ini merupakan rumah sakit rujukan KJSU Kemenkes dengan program layanan kesehatan prioritas dari Kementerian Kesehatan yang meliputi Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi.

Kini berbagai alat baru yang semakin canggih dan inovatif dikembangkan di dunia medis.

Salah satunya adalah Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) yang kini sudah dimiliki dan diaplikasikan di RSUD Bangil, untuk membantu masyarakat dengan berbagai keluhan.

Tahun ini, lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), RSUD Bangil mampu memiliki dan telah mengaplikasikan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS).

TMS sendiri, adalah Terapi non invasive yang menggunakan medan magnet untuk merangsang area spesifik di otak.

OPTIMALISASI LAYANAN: Seorang pasien yang sedang jalani pengukuran kompisisi tubuh menggunakan BIA.
OPTIMALISASI LAYANAN: Seorang pasien yang sedang jalani pengukuran kompisisi tubuh menggunakan BIA.

Adapun cara kerja TMS ini, dilakukan menempelkan kumparan magnet di kulit kepala untuk menghasilkan gelombang elektromagnetik yang menembus tengkorak dan merangsang aktivitas sel saraf di area tertentu.

Alat ini menjadi terapi inovatif yang merangsang saraf otak, untuk mengatasi berbagai kondisi neurologis dan psikiatris.

Seperti depresi, stroke, parkinson, dan gangguan kecemasan tanpa proses bedah dan dilakukan dalam kondisi pasien tetap sadar. Sehingga tak ada rasa sakit yang dirasakan pasien saat diterapi.

Menurut Direktur RSUD Bangil dr. Arma Roosalina, M.Kes melalui dr. Darmi Sapto Kurniawati, tak banyak rumah sakit yang memiliki TMS terlebih di Jawa Timur.

“Alat memang masih tidak banyak dimiliki oleh rumah sakit. Alhamdulillah RSUD Bangil saat ini sudah punya,” ujarnya.

Lebih lanjut kata dr. Darmi, TMS ini punya banyak kelebihan dalam membantu keluhan pasien dengan gangguan kesehatan mental dan kondisi neurologis.

Beberapa manfaat, untuk kesehatan mental misal bagi penderita depresi mayor alat ini dapat mengurangi gejala setres dan memoerbaiki suasana hati, mengobati gejala gangguan OCD, kecemasan dan membantu gejala pada kondisi seperti gangguan bipolar, BPD, PTSD, dan skizofrenia.

“Selain itu, TMS juga bermanfaat untuk mempercepat pemulihan pasca stroke dengan membantu meningkatkan fungsi motorik (kekuatan dan kontrol), memulihkan kemampuan bicara, mengurangi kekakuan otot, dan meningkatkan fungsi kognitif seperti daya ingat dan konsentrasi,” terangnya.

Ia berharap, dengan semakin lengkapnya alat-alat kedokteran yang dimiliki RSUD Bangil itu, dapat membantu memberikan pelayanan yang lebih optimal bagi kesehatan masyarakat sebagaimana visi dan misi RSUD Bangil dalam memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

Tak hanya TMS, RSUD Bangil juga bahkan kini memiliki Brain Neurofeedback yakni terapi non invasive yang melatih otak untuk berfungsi lebih optimal dengan memberikan visualisasi langsung tentang aktivitas gelombang otak.

Alat ini serupa dengan TMS tapi Brain Neurofeedback dipakai untuk anak-anak.

Terapi ini digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi seperti ADHD, kecemasan, depresi, hingga kesulitan tidur, serta dapat juga digunakan untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi pada anak.

Selain dua teknologi itu, ada pula Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) yakni alat pengukur komposisi tubuh yang menggunakan aliran listrik lemah untuk mengukur kadar lemak, massa otot, cairan tubuh, tulang, dan metabolisme basal tubuh.

Alat ini bekerja dengan mengirimkan sinyal listrik melalui tubuh dan mengukur resistensinya (impedansi), lalu mengolah data tersebut menjadi informasi komposisi tubuh yang lebih akurat.

Sehingga pasien bisa tahu berapa massa lemak tubuh, massa otot, kadar air dan Metabolisme Basal Rate (BMR)

“Perkembangan teknologi terutama di bidang kesehatan memang terus berkembang pesat, kami berupaya untuk terus mengikuti perkembangan teknologi agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkapnya. (ran/one)

Editor : Jawanto Arifin
#rujukan #rsud bangil #tms #rumah sakit