BEJI, Radar Bromo — Proyek pemeliharaan Jalan Kedungringin–Kedungboto di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, sempat menuai polemik hingga dihentikan sementara.
Penyebabnya, pelaksana proyek dinilai tidak melakukan kesepakatan yang sudah dibuat bersama warga.
Saat sosialisasi proyek, disepakati agar pekerjaan dimulai dari arah barat dengan sistem buka tutup sebagian jalan. Sehingga, akses warga tidak tutup total dan warga tetap bisa melintas.
Namun, di lapangan pelaksana justru memulai pekerjaan dari arah sebaliknya, yaitu dari arah timur.
Bahkan, pelaksana proyek menutup jalur kendaraan total, sehingga aktivitas warga terganggu.
Proyek senilai Rp 3,66 miliar yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2025 itu dikerjakan CV Sidodadi Makmur.
Proyek dikerjakan selama 60 hari kalender di bawah pengawasan Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Pasuruan.
Warga Kedungringin Henry Sulfiyanto membenarkan bahwa sempat terjadi perbedaan pandangan antara warga dan pelaksana proyek.
Namun, persoalan ini sudah terurai setelah digelar pertemuan dengan difasilitasi Muspika Beji.
“Pertemuan tadi cukup hangat, tapi sudah ada titik temu. Pelaksana menyanggupi lebih fleksibel dalam pengerjaan,” ujar Henry, Kamis (13/11).
Selama pertemuan itu, perwakilan warga dan pelaksana proyek menyepakati empat hal selama proyek dikerjakan.
Di antaranya, pelaksana proyek bisa kembali melanjutkan pekerjaan. Teknis pengerjaan diserahkan ke pelaksana proyek dengan mempertimbangkan kemudahan mobilitas warga.
Selain itu, masyarakat siap membantu bongkar muat material proyek. Sehingga, jalur ekonomi dan jalur pendidikan bisa tetap lancar.
Komisaris CV Sidodadi Makmur Agus Susanto menjelaskan, perubahan arah pengerjaan dilakukan agar pekerjaan proyek lebih efisien. Ia pun memastikan pihaknya akan bekerja fleksibel menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Awalnya memang direncanakan dari barat. Namun karena ada kendala teknis, kami mulai dari timur. Ini demi kelancaran pekerjaan sebenarnya. Untuk mengejar target, kami akan lembur bila cuaca mendukung. Sebab, kalau dikerjakan saat hujan bisa memengaruhi kualitas beton,” terangnya.
Agus menambahkan, progres pekerjaan yang dimulai sejak 29 Oktober itu baru mencapai 7 persen. Namun, pihaknya yakin progres pekerjaan akan meningkat pesat begitu tahap pengecoran dimulai.
“Kalau sudah masuk pekerjaan beton jalan, progres bisa naik 10 sampai 15 persen per minggu,” imbuhnya.
Kepala Desa Kedungringin Rizky Wahyuni menegaskan, pemerintah desa mendukung penuh proyek tersebut.
Sebab, jalan yang diperbaiki merupakan jalur vital bagi masyarakat. Terutama untuk mobilitas warga dan kegiatan ekonomi.
“Kami berharap komunikasi antara warga dan pelaksana proyek terus dijaga agar tidak terjadi salah paham lagi. Yang penting jalan ini bisa selesai tepat waktu dan berkualitas baik,” ujarnya. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi