Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pemanfaatan Dana Cukai Dinas Ketenagakerjaan: Gelar Pelatihan Berbasis Kompetensi, Cetak Tenaga Kerja Bersertifikat

Muhamad Busthomi • Kamis, 6 November 2025 | 13:00 WIB
TAMBAH SKILL: Pelatihan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang digelar Dinas Ketenagakerjaan dengan tujuan mencetak tenaga siap kerja dan bersertifikat
TAMBAH SKILL: Pelatihan Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang digelar Dinas Ketenagakerjaan dengan tujuan mencetak tenaga siap kerja dan bersertifikat

DANA bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) di Kabupaten Pasuruan juga digunakan untuk pelatihan ketenagakerjaan.

Sasaran pelatihan ini adalah para pencari kerja dengan tujuan agar mereka bisa upgrade skill.

Ratusan pencari kerja di Kabupaten Pasuruan mengikuti program Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) yang digelar Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) di UPT Latihan Kerja Daerah.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis Pemkab Pasuruan dalam menyiapkan SDM siap kerja dan bersertifikat nasional.

Sepanjang tahun 2025, Disnaker membuka 22 paket kejuruan dengan total 352 peserta yang dibagi dalam tiga gelombang.

Bidang pelatihan mencakup keahlian yang dibutuhkan dunia industri, mulai barista, tata rias, menjahit, forklift, pengelasan SMAW 3G, otomotif roda dua, pembuatan roti dan kue, bubut CNC, hingga batik.

Kepala Disnaker Kabupaten Pasuruan Heru Farianto menegaskan, pelatihan ini tidak sekadar memberi keterampilan dasar. Tetapi juga membekali peserta dengan kompetensi yang diakui secara nasional.

“Kami ingin para pencari kerja benar-benar punya keterampilan dan kompetensi tenaga kerja, sehingga mereka bisa memperoleh pekerjaan yang layak atau memulai usaha sendiri,” kata dia.

Pembukaan pelatihan Dinas Ketenagakerjaan. Sepanjang 2025 Dinas Ketenagakerjaan membuka 22 paket kejuruan dengan total 352 peserta yang dibagi dalam tiga.
Pembukaan pelatihan Dinas Ketenagakerjaan. Sepanjang 2025 Dinas Ketenagakerjaan membuka 22 paket kejuruan dengan total 352 peserta yang dibagi dalam tiga.

Selain itu, pelatihan ini juga bertujuan untuk mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memenuhi kebutuhan pasar kerja. 

Setiap peserta menjalani 240 jam pelajaran atau 30 hari pelatihan. Setelah itu, mereka mengikuti Uji Kompetensi (UJK) yang diselenggarakan oleh UPT LKD bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Hasilnya cukup membanggakan. Dari 96 peserta gelombang pertama, sebanyak 89 orang dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat resmi dari BNSP.
“Capaian ini menunjukkan kualitas pelatihan di Pasuruan sudah sesuai standar nasional. Kami bangga, hampir seluruh peserta lulus uji kompetensi,” tegas Heru.

Ia menambahkan, Disnaker akan terus mendorong agar lulusan PBK segera terserap ke dunia kerja atau membuka usaha mandiri. “Sertifikat BNSP ini menjadi pengakuan formal atas kompetensi kerja mereka, bukti bahwa peserta memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai standar industri,” tandasnya.

JANGKAU DESA: Program Mobile Training Unit ke desa-desa guna menjangkau masyarakat yang belum memiliki pekerjaan.
JANGKAU DESA: Program Mobile Training Unit ke desa-desa guna menjangkau masyarakat yang belum memiliki pekerjaan.

 

Mobile Training Unit, Inovasi Jemput Bola Gelar Pelatihan ke Desa-Desa

Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Pasuruan tak hanya menggelar pelatihan di UPT Latihan Kerja Daerah Rejoso.

Tahun ini, dinas tersebut juga aktif turun ke desa-desa lewat program Mobile Training Unit (MTU), guna menjangkau masyarakat yang belum memiliki pekerjaan.

Kepala Disnaker Kabupaten Pasuruan Heru Farianto mengatakan, program MTU merupakan langkah jemput bola untuk mencetak tenaga kerja kompeten tanpa harus jauh-jauh ke UPT LKD.

“Pelatihan dilakukan langsung di balai desa atau lokasi yang disepakati bersama sesuai minat dan kebutuhan masyarakat,” ujar Heru.

Setiap desa terlebih dulu mengusulkan jenis pelatihan sesuai potensi lokal. Setelah diverifikasi, Disnaker menurunkan instruktur beserta fasilitas lengkap. Satu paket pelatihan diikuti 16 peserta dengan durasi 30 hari kalender.

Selain materi teknis sesuai bidang kejuruan, peserta juga mendapat pelatihan soft skill tentang kewirausahaan.

“Seperti di Desa Kedungpengaron, Kecamatan Rembang, warga kami latih membatik agar bisa membuka usaha mandiri,” tambah Heru.

Sementara itu, Kepala UPT LKD Kabupaten Pasuruan Muhammad Farid Ardiansyah menambahkan, pelatihan MTU meliputi kejuruan menjahit, pengolahan makanan dan minuman, pembuatan roti dan kue, serta membatik.

Selama mengikuti MTU, peserta mendapatkan berbagai fasilitas seperti uang transport, seragam, tas, alat tulis, bahan praktik, hingga asuransi ketenagakerjaan.

“Fasilitasnya sama seperti pelatihan di UPT Latihan Kerja Daerah Rejoso, bedanya hanya tempat pelaksanaannya saja. Dengan menyediakan pelatihan langsung ke lokasi, MTU mempermudah akses masyarakat terhadap pelatihan,” pungkas Farid. (tom/*)

Editor : Abdul Wahid
#ketenagakerjaan #Mas Rusdi #dbhct #pemkab pasuruan #pelatihan #dana cukai