BANGIL, Radar Bromo - Peringatan Hari Santri di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Rabu (22/10), berlangsung penuh makna.
Tak hanya menjadi ajang refleksi bagi kalangan santri, momentum itu juga diwarnai aksi kepedulian sosial.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan menyerahkan bantuan kaki palsu bagi penyandang disabilitas.
Secara simbolis, bantuan diserahkan Wakil Bupati Pasuruan, HM Shobih Asrori, seusai upacara Hari Santri di halaman kantor bupati, kompleks perkantoran Pemkab Pasuruan.
Sebanyak 13 warga dari sembilan kecamatan menerima bantuan kaki palsu produksi Alban Prothese.
Mereka di antaranya Dewi Jamilah dan Prayitnoto (Grati), Febri Yanuar (Purwodadi), Fitriyah dan Siti Fatimah (Gondangwetan), Ahmad Yusuf Setyawan (Gempol), Samari (Purwodadi), Farida (Pohjentrek), serta Suki (Wonorejo). Juga Suyanto dan Tumin (Nguling), Wakit (Pasrepan), dan Muk’awanah (Pasrepan).
Bantuan itu diharapkan mampu meningkatkan mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup penerima agar dapat lebih produktif di tengah masyarakat.
Salah satu penerima, Fitriyah, warga Desa Wonosari, tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
Ia kehilangan kaki kiri akibat kecelakaan pada 2021. Kini, berkat bantuan itu, semangatnya untuk beraktivitas kembali muncul.
“Alhamdulillah, saya sangat senang. Terima kasih atas perhatian Pemkab Pasuruan. Kaki palsu ini akan sangat membantu saya untuk berjalan dan bekerja lagi,” ujarnya lirih.
Sementara itu, di kesempatan upacara Hari Santri, Gus Shobih-sapaan Wakil Bupati Pasuruan-membacakan amanat Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.
Pesan yang disampaikan berfokus pada kebangkitan santri di era disrupsi agar tak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh menghadapi perubahan zaman.
“Santri harus berilmu, berakhlak, dan berdaya. Rawat tradisi pesantren, tapi juga peluk inovasi zaman. Santri harus hadir membawa solusi, bukan sekadar menjadi penonton,” tegasnya.
Gus Shobih juga mengingatkan pentingnya peran santri dalam membangun peradaban dunia yang damai dan berkeadaban.
“Dari tangan para santrilah masa depan Indonesia akan ditulis. Mari terus berjuang bersama, menjaga ilmu dan akhlak, menghormati guru, dan mencintai tanah air,” tandasnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin