Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dapat Warning KLH, Pemkab Pasuruan Lirik Insinerator untuk Pengelolaan Sampah di TPA Wonokerto

Muhamad Busthomi • Minggu, 3 Agustus 2025 | 19:45 WIB
MENUMPUK: Tumpukan sampah di TPA Wonokerto. Pengelolaan sampah yang tak optimal, menjadi sorotan KLH. Karenanya, Pemkab Pasuruan berencana untuk menerapkan insinerator.
MENUMPUK: Tumpukan sampah di TPA Wonokerto. Pengelolaan sampah yang tak optimal, menjadi sorotan KLH. Karenanya, Pemkab Pasuruan berencana untuk menerapkan insinerator.

BANGIL, Radar Bromo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan langsung bergerak cepat membenahi sistem pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonokerto, Kecamatan Sukorejo.

Langkah itu diambil setelah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberi warning soal tata kelola sampah yang masih belum optimal.

Teguran tersebut dilayangkan karena praktik over dumping di TPA yang menyebabkan penumpukan sampah kian tak terkendali.

Sementara upaya lama dengan memanfaatkan gas metan dianggap belum efisien, mahal, dan terlalu rumit untuk diterapkan dalam skala besar.

Tak mau tinggal diam, Pemkab langsung tancap gas memilih langkah lebih realistis, menerapkan teknologi insinerator.

Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo menyebut, pihaknya langsung merespons cepat peringatan tersebut.

“Kami memang mendapat warning dari KLHK. Itu jadi cambuk agar kami segera berbenah. Pemanfaatan gas metan memang belum optimal. Terlalu teknis, biayanya mahal, dan hasilnya belum maksimal,” ujar Mas Rusdi-sapaannya.

Menurutnya, Pemkab kini tengah bersiap mengadopsi sistem insinerator seperti yang diterapkan di Kota Bandung.

Teknologi ini dinilai lebih praktis karena mampu memangkas volume sampah secara signifikan dengan cara dibakar dalam suhu tinggi yang terkontrol.

“Kalau berjalan baik, target kita adalah zero waste. Sampah tidak hanya dibuang, tapi diolah hingga benar-benar habis,” tegasnya.

Namun, ia menekankan bahwa solusi sampah tidak bisa hanya mengandalkan teknologi.

Persoalan sebenarnya justru ada di hulu. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan membuang sampah dengan benar.

“Selama ini, kita hanya berkutat di hilir, mengolah sampah yang sudah menumpuk. Tapi belum ada perubahan perilaku di masyarakat. Padahal kuncinya ada di sana,” jelasnya.

Karena itu, selain pembenahan infrastruktur di TPA, Pemkab juga akan memperkuat edukasi dan kampanye kesadaran lingkungan kepada publik.

Menurut Mas Rusdi, perubahan mindset masyarakat jadi langkah penting menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Perubahan ini harus menyeluruh. Tidak hanya soal alat atau mesin. Tapi juga soal kesadaran kolektif. Kalau semua pihak bergerak bareng, saya yakin pengelolaan sampah di Pasuruan akan jauh lebih baik,” urainya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#TPA Wonokerto #insinerator #sampah #pemkab pasuruan #tpa #klh