Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keluh Kesah Pedagang Daging Ayam di Pasar Bangil Pasuruan: Kalah Bersaing dengan Pedagang dari Luar

Muhamad Busthomi • Selasa, 29 Juli 2025 | 13:25 WIB

 

 

MEDIASI: Pemerintah Kecamatan Bangil bersama Disperindag Kabupaten Pasuruan menggelar mediasi di kantor Kecamatan Bangil Senin (28/7).
MEDIASI: Pemerintah Kecamatan Bangil bersama Disperindag Kabupaten Pasuruan menggelar mediasi di kantor Kecamatan Bangil Senin (28/7).

BANGIL, Radar Bromo – Sejumlah pedagang daging ayam di dalam area Pasar Bangil dibuat kelimpungan. Mereka mengaku pendapatannya turun drastis akibat serbuan pedagang dari luar pasar yang menawarkan harga jauh lebih rendah.

Fenomena ini mengguncang stabilitas penjualan para pedagang lama. Penurunan omzet menjadi tak terhindarkan.

Bahkan, sebagian di antaranya mengalami kerugian karena stok daging ayam yang mereka beli dari distributor tak kunjung laku dijual.

Merespons persoalan tersebut, pihak kecamatan bersama Disperindag Kabupaten Pasuruan langsung menggelar mediasi di Kantor Kecamatan Bangil, kemarin (28/7). Dialog mempertemukan pedagang dari dalam dan luar pasar demi mencari titik temu.

Salah satu pokok hasil kesepakatan ialah penyesuaian harga jual daging ayam. Meski belum dibakukan dalam regulasi resmi, para pihak sepakat untuk menyeimbangkan harga agar kompetisi tetap sehat.

Selisih harga sebelumnya memang cukup mencolok. Pedagang di dalam pasar menjual daging ayam seharga Rp 29.000–Rp 30.000 per kilogram.

Sedangkan pedagang baru dari luar pasar hanya mematok Rp 23.500. Selisih harga hingga Rp 6.000 ini membuat pedagang lama tak mampu bersaing.

Kholilah, salah satu suplier ayam potong menyatakan, penjualannya ikut terdampak. Jika sebelumnya ia bisa mengedarkan dua ton daging per hari, kini hanya sekitar satu ton lebih.

“Kondisi persaingannya tidak sehat. Harga segitu, jelas memukul pedagang kecil. Mereka bawa 10 kilogram saja kadang tak habis,” ujarnya.

Menurutnya, menjual daging dengan harga murah sah-sah saja. Namun, hendaknya tetap memperhatikan keberlangsungan pelaku usaha kecil.

“Kalau memang pemain besar, lebih baik main di pasar besar. Jangan ganggu pedagang kecil yang pasarnya terbatas,” tambahnya.

Kholilah menilai, wajar bila ada perbedaan harga sekitar Rp 1.000 per kilogram. Namun, jika selisihnya mencapai Rp 5.000 lebih, maka perlu ada penyesuaian.

“Selisih segitu sudah di luar nalar. Ini bukan lagi bersaing, tapi membantai harga,” katanya.

Dalam forum tersebut, pedagang luar yang sebelumnya menjual murah, yakni Roby, menyatakan kesediaannya menaikkan harga jual.

Para pedagang luar sepakat akan menjual daging ayam Rp 27.000 per kilogram mulai 1 Agustus 2025. Namun, pedagang di dalam pasar masih menganggap harga itu belum ideal.

Sekretaris Kecamatan Bangil Budi Mulyono menuturkan, pihaknya akan terus memantau situasi pasar agar tetap kondusif.

“Kami akan lihat pelaksanaan kesepakatan ini di lapangan. Tujuan kami menciptakan win-win solution,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengembangan Perdagangan Disperindag Pasuruan Deddy Irawan menekankan bahwa pemerintah tidak bisa secara langsung mengendalikan harga komoditas di pasar. Hal itu sepenuhnya menjadi domain pedagang dan distribusi barang.

“Karena sumber pasokan berbeda-beda, maka harga pun bervariasi. Tapi kami berharap iklim perdagangan tetap rukun, tidak saling menjatuhkan,” ucapnya. (tom/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #pedagang #daging ayam #pasar bangil #harga