BANGIL, Radar Bromo-Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan membahas soal limbah PT Sumber Asia sempat memanas.
Suasana memanas setelah perwakilan PT Sumber Asia, Joan dan Dimas, memaparkan sejumlah upaya yang dilakukan perusahaan untuk mengurangi bau tak sedap.
Keduanya menyebut telah membatasi penerimaan bahan baku. Juga memasang alat penghilang bau, hingga menyemprotkan kaporit saat ada kendaraan masuk ke perusahaan untuk mengurangi bau.
“Bahan baku kami berasal dari limbah, seperti tulang sapi, ikan, bulu ayam, dan limbah organik lainnya. Kami sudah berupaya mengurangi kuantitas produksi dan lebih selektif dalam menerima bahan. Kami juga bekerja sama dengan DLH dan telah menginstal alat pengendali bau,” terang Joan.
Namun, Komisi III tak begitu saja percaya. Sebab, upaya perusahaan selama ini belum membuahkan hasil nyata di lapangan.
Bahkan, Ketua Komisi III menyebut alasan-alasan yang disebutkan tidak pernah “matching” dengan kondisi produksi. Buktinya, bau tak sedap tetap muncul.
Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, DLH Kabupaten Pasuruan Sigit Andita mengakui keluhan masyarakat soal bau dari PT Sumber Asia sudah masuk sejak bertahun-tahun lalu.
Menurutnya, pengawasan dan pengendalian teknis di lapangan masih menjadi persoalan.
“DLH telah melakukan pembinaan dan saat ini pengelolaan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama antara tenant dan manajemen kawasan industri PIER. Semua alat dan metode yang digunakan harus melalui uji teknis dan sesuai baku mutu,” jelas Sigit.
Rapat ditutup dengan kesimpulan tegas. DPRD akan memantau intensif dalam dua minggu ke depan.
Jika dalam waktu tersebut tidak ada perubahan signifikan, Komisi III mengisyaratkan akan membawa persoalan ini ke langkah yang lebih serius.
“Jangan sampai kami mengambil langkah hukum atau memanggil ulang dengan rekomendasi yang lebih tegas. Dua minggu ini adalah batas iktikad baik untuk berbenah,” terang ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Yusuf Daniyal. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi