BANGIL, Radar Bromo– Aroma tak sedap dari aktivitas produksi PT Sumber Asia di kawasan PIER, Rembang, Kabupaten Pasuruan, dinilai sangat menyengat. Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan pun geram.
Mereka memberi waktu pada perusahaan untuk menyelesaikan masalah itu dalam waktu dua minggu.
Bukan tanpa alasan. Bau tak sedap dari perusahaan pakan ternak yang ada di kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) itu sudah dikeluhkan warga sekitar sejak 2004.
Artinya, sudah 20 tahun lebih masalah itu ada. Namun, sampai saat ini warga tetap mengeluhkan hal serupa.
Saat rapat dengar pendapat (RDP), Rabu (25/6), Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan Yusuf Daniyal menilai, PT Sumber Asia tidak serius mengatasi persoalan bau selama dua dekade.
“Kami tidak rewel. Tapi mari pakai logika sehat. Kalau indera penciuman kita normal, pasti tahu baunya masih sangat mengganggu,” tegas Danil, sapaan Yusuf Daniyal.
Ia menegaskan, dewan mendukung investasi. Namun, bukan berarti membiarkan warga dan lingkungan sekitar terus-menerus terganggu.
Karena itu, Danil memberikan kesempatan pada perusahaan untuk menyelesaikan masalah itu dalam waktu dua minggu.
“DLH tiap tahun membina, tapi tetap saja ada keluhan. Kita bukan bicara teknis alat yang katanya pintar. Namun, kenyataan di lapangan tidak ada perubahan,” ujarnya.
Danil menyebut, janji perbaikan sudah berkali-kali disampaikan perusahaan untuk mengatasi bau menyengat. Tapi, hasil konkretnya nihil. Ia bahkan pernah turun langsung ke lokasi.
“Saya pernah ke sana. Baunya sangat menyengat. Setelah dari sana, saya sampai harus membawa mobil saya ke salon mobil karena baunya tidak hilang,” paparnya.
Nada tegas juga dilontarkan anggota Komisi III dari Fraksi PKB, Sudiono Fauzan. Ia mengaitkan persoalan bau dengan relokasi pusat pemerintahan ke Raci.
“Kalau sore baunya minta ampun. Bukan cuma warga, tapi tamu pemerintah pun mencium baunya. Kasihan masyarakat sekitar,” paparnya.
Sudiono menilai, udara yang tercemar justru mencederai semangat pemerintah membangun pusat pemerintahan yang bersih dan representatif.
“Pemerintah sudah memberi ruang investasi, tapi harus ada timbal balik. Jangan sampai warga jadi korban. Teknologi sekarang sudah canggih, jangan berdalih terus. Perlu ada penanganan serius menghilangkan bau,” imbuhnya.
Nurul dari Fraksi Gerindra juga menyampaikan kekesalannya. Ia mengatakan, keluhan masyarakat tidak hanya datang dari Desa Kalisat. Melainkan meluas ke seluruh Kecamatan Rembang.
“Ini bukan masalah baru. Sudah puluhan tahun lebih baunya luar biasa. Masyarakat dari berbagai desa sudah protes. Jangan seolah-olah baru dengar,” tegas Nurul. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi