BANGIL, Radar Bromo - Kabupaten Pasuruan masih mempertahankan reputasinya sebagai salah satu lumbung susu sapi segar Jawa Timur.
Produksi susu tercatat cukup stabil di awal tahun. Meskipun populasi sapi perah, mengalami sedikit penurunan.
Pada tribulan pertama tahun ini, produksi susu masih menunjukkan angka yang signifikan, mencapai 26.684.735 liter atau setara dengan 27 persen dari total produksi tahun 2024 yang mencapai 97.112.202 liter.
Data terbaru menunjukkan, adanya penurunan tipis dalam populasi sapi perah di Kabupaten Pasuruan.
Jika pada tahun 2024 tercatat sebanyak 90.096 ekor, kini di tribulan pertama 2025, jumlahnya menyusut menjadi 89.884 ekor.
Penurunan sebanyak 212 ekor atau sekitar 0,24 persen ini, menjadi catatan tersendiri di tengah optimisme produksi susu.
Kecamatan Tutur masih kokoh memegang predikat sebagai penyumbang susu terbesar Diikuti oleh Kecamatan Lekok dan Kecamatan Puspo.
Kontribusi dari sepuluh kecamatan lainnya, termasuk Purwodadi, Purwosari, Lumbang, Pasrepan, Tosari, Rejoso, Grati, Pandaan, Kejayan, dan Prigen, juga turut mewarnai peta produksi susu di Kabupaten Pasuruan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiyah, mengakui bahwa sentra produksi susu utama seperti Tutur, Lekok, dan Puspo masih menjadi andalan.
“Kekuatan produksi susu kita memang masih bertumpu pada tiga kecamatan tersebut. Kami akan terus memberikan perhatian khusus dan dukungan kepada para peternak di wilayah-wilayah ini,” tegasnya.
Alfiyah mengakui, adanya sedikit penurunan populasi sapi perah. “Namun kami terus berupaya untuk menjaga produktivitas, melalui berbagai program pendampingan dan peningkatan kualitas peternakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, fokus pemerintah saat ini adalah bagaimana peternak dapat menghasilkan susu dengan kualitas dan kuantitas yang optimal.
Meskipun terdapat dinamika dalam jumlah populasi. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin