BANGIL, Radar Bromo – Rencana pemecahan aset SMAN 1 Bangil untuk kepentingan SMA Taruna Madani terus menuai badai protes.
Sejumlah warga dan alumni mempertanyakan akuisisi tersebut lantaran merasa ikut berkeringat dalam pembangunan dan pengembangan SMAN 1 Bangil sejak awal berdirinya.
Chairil Muchlis, alumni SMAN 1 Bangil Angkatan 1988, mempelopori Aliansi Alumni dan Masyarakat Bangil Peduli SMANBA untuk audiensi dengan komite sekolah dan Dinas Pendidikan Jawa Timur, Rabu (23/4).
Ia menegaskan, pihaknya tidak menentang keberadaan SMA Taruna Madani. Namun, ia mempertanyakan urgensi pendirian sekolah tersebut yang dinilai mencederai rasa keadilan.
”SMAN 1 Bangil itu satu-satunya SMA yang diperebutkan lima kecamatan, salah satunya Gempol dengan jumlah penduduk terbesar. Dinas provinsi seharusnya punya data rasio itu,” ujarnya.
“Taruna Madani justru mereduksi kuota SMAN 1 Bangil. Buktinya, dari 12 rombel (rombongan belajar) turun menjadi 9 rombel,” imbuhnya.
Kekhawatiran akan keputusan top-down dari pemprov terkait pemecahan aset semakin mencuat.
Muchlis menilai, aset SMAN 1 Bangil itu bukan murni dari pemerintah. ”Tetapi banyak partisipasi masyarakat berupa sumbangan,” imbuh Chairil.
Disamping itu, data yang dihimpun alumni juga menunjukkan tren penurunan prestasi SMAN 1 Bangil sejak berdirinya SMA Taruna Madani.
Puncaknya, terjadi beberapa kali demonstrasi yang salah satu tuntutannya adalah penggantian kepala sekolah.
Gandung, alumni angkatan pertama SMAN 1 Bangil, mengenang perjuangan di tahun-tahun awal berdirinya sekolah. Ia ingat betul, butuh waktu tiga tahun bagi sekolah untuk bisa memiliki gedung sendiri. Sebelumnya, para siswa numpang di sekolah-sekolah lain.
”Waktu itu belum punya gedung. Baru kelas 3 ada gedung. Banyak partisipasi masyarakat yang dikoordinir BP3 yang sekarang menjadi komite sekolah,” bebernya.
Menanggapi polemik ini, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan SMA di Dinas Pendidikan Jawa Timur, Suhartatik menjelaskan bahwa telah ada kesepakatan win-win solution yang sedang berjalan.
Ia mengakui adanya dinamika di Bangil dengan keberadaan satu-satunya SMAN dan munculnya SMA Taruna Madani sebagai sekolah unggulan.
”Adanya Taruna Madani, Pak Kadis evaluasi, andaikan jalan pasti ada kerikil-kerikil. Sehingga kemudian dipisah. Sehingga SMAN 1 Bangil tetap, Madani tetap,” jelas Suhartatik.
Pemisahan ini juga bertujuan untuk menjaga eksistensi kedua satuan pendidikan tersebut.
Suhartatik menambahkan bahwa pihaknya telah berupaya melibatkan biro hukum, biro pemerintahan, dan biro organisasi untuk membahas pemecahan aset ini.
”Dapodik (Data Pokok Pendidikan) dan SOTK (Struktur Organisasi dan Tata Kerja) SMAN 1 Bangil dan Taruna Madani sudah terpisah. Kalau soal tinggal dibicarakan nanti,” terangnya.
Suhartatik menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam pembangunan SMAN 1 Bangil. Karena itu, ia meminta keikhlasan masyarakat agar sumbangan yang telah diberikan menjadi amal jariyah.
Menurut aturan, sekolah yang menerima sumbangan harus mencatatnya sebagai aset pemerintah. Jika tidak, hal ini bisa menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
”Berlaku juga untuk SMAN 1 Bangil yang sudah menjadi aset Pemprov. Sekarang tergantung pemerintah dengan adanya kesepakatan untuk diberikan sebagian ke Taruna Madani,” katanya.
Pernyataan Suhartatik itu lantas direspons Muchlis. Menurutnya, titik berat persoalan itu bukan pada konteks ikhlas atau tidak ikhlas. Namun, lebih pada upaya penyelamatan SMAN 1 Bangil yang kian lama kian terkikis dengan adanya SMA Taruna Madani.
”Jadi jangan disalahartikan bahwa pada konteks Ikhlas dan tidak Ikhlas. Pemprov juga mesti bijak melihat latar belakang bagaimana aset-aset itu diperoleh, untuk kemajuan kualitas SMAN Bangil,” tandasnya. (tom/hn)
Editor : Muhammad Fahmi