MAKASSAR, Radar Bromo– Kecanggihan Command Center yang dimiliki Pemkot Makassar, membuat Bupati Pasuruan, HM Rusdi Sutejo kepincut.
Keinginan untuk memiliki Command Center serupa mencuat, dengan rencana duplikasi sarana setempat.
Mas Rusdi –sapaan akrab Bupati Pasuruan- mengaku, sudah melihat langsung keberadaan Command Center yang ada di Makassar.
Ia memandang perlu untuk mengadopsi fasilitas tersebut di Kabupaten Pasuruan.
Karena banyak manfaat yang bisa didapat. Selain untuk pemantauan wilayah, juga berfungsi untuk early warning system ketika ada bencana seperti pohon tumbang hingga memantau pendapatan daerah secara real time.
“Makasar termasuk pioner Command Center di Indonesia. Kami ingin menduplikasi kecanggihan Command Center di kota setempat, untuk Kabupaten Pasuruan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberadaan Command Center di Kabupaten Pasuruan sangatlah urgent.
Karena menjadi sarana untuk memantau kondisi wilayah. Seperti ketika ada aksi kejahatan jalanan.
Maka akan dengan mudah untuk dilakukan monitoring kejadian dan sekaligus memudahkan petugas dalam melakukan perburuan.
“Kabupaten Pasuruan belum memiliki Command Center. Masih berupa Meeting Room Center. Kami memandang sangat urgent, untuk memonitoring apa yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan. Bahkan, ketika ada PJU yang bermasalah, tidak perlu lagi menunggu laporan warga. Karena bisa terpantau langsung di Command Center tersebut,” sampainya.
Hanya saja, ia tak memungkiri, butuh biaya besar untuk merealisasikannya.
Mengingat, selain ketersediaan ruang yang menunjang, juga dibutuhkan infrastruktur yang mumpuni. Serperti server dan kebutuhan lainnya.
“Termasuk ribuan CCTV, yang perlu disebar di wilayah Kabupaten Pasuruan. Di Kota Makassar, ada kurang lebih 2 ribu CCTV yang terpasang. Sementara di wilayah Kabupaten Pasuruan, masih sangat minim,” sambung dia.
Setidaknya, butuh anggaran hingga kisaran Rp 10 miliar. Dana itu, hanya sekedar untuk role model untuk wallroom dan peralatan penunjang yang ada.
Belum termasuk CCTV yang harus disebar di setiap sudut kota hingga desa. (one/mie)
Editor : Muhammad Fahmi