Syarifah Alhababah Khodijah atau yang akrab disapa Mbah Ratu Ayu merupakan salah satu ulama kondang yang sampai sekarang terus dikenang.
Hampir tiap peringatan haul (peringatan wafatnya) ribuan jemaah selalu memadati areal makamnya yang ada di Bangil, Kabupaten Pasuruan.
============================
TIGA makam tampak berjejer dalam sebuah ruang yang terletak di lingkungan Wetan Alun, Kelurahan Kersikan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan itu.
Areal pemakaman mini itu selama ini tak pernah sepi oleh para peziarah. Maklum saja, makam itu bukanlah makam orang sembarangan.
Dari 3 makam diantaranya, salah satunya merupakan salah satu tokoh alim ulama yang cukup kesohor. Yakni Syarifah Khodijah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Ratu Ayu.
Menurut salah satu tokoh agama di lingkungan setempat, dikenangnya sosok Mbah Ratu Ayu itu tak lain karena sosoknya yang masuk dalam ketegori Aulia alias wali.
Mbah Ratu Ayu merupakan anak dari Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati.
Warga di lingkungan wetan alun-alun Bangil memang tak tahu persis kapan Ratu Ayu dilahirkan.
Yang jelas, Mbah Ratu Ayu hidup pada era 1022 hijriah, atau dalam kalender umum, pada kisaran tahun 1541 masehi. Ratu Ayu sendiri sejatinya tak dilahirkan di Bangil.
Ratu Ayu lahir di Cirebon. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai penyebar agama Islam sampai yang berkelana ke beberapa daerah sampai akhirnya sampai di Kabupaten Pasuruan.
Kisah bagaimana makamnya berada di Bangil, Pasuruan, bermula dari pernikahannya dengan Abdurrahman bin Umar. Sayang, lagi-lagi warga setempat tak memiliki catatan kapan Ratu Ayu menikah.
Namun yang pasti, dari pernikahan tersebut Ratu Ayu dikaruniai empat orang putra. Dua dari mereka, adalah Sulaiman dan Abdurohim
Nah, dua putra Ratu Ayu itulah yang pertama kali menginjakkan kakinya di bumi Pasuruan. Keduanya memilih merantau mencari ilmu agama di Pasuruan.
Mereka belajar agama ke Kyai Sholeh atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Sholeh di Winongan. Kedatangan keduanya, diterima dengan baik oleh Mbah Sholeh.
Hingga pada suatu malam, Mbah Sholeh berkunjung ke kamar para santrinya. Di saat itulah, ia melihat kening Sulaiman dan Abdurohim, memancarkan cahaya.
Merasa ada sesuatu yang spesial dari dua santrinya itu, Mbah Soleh memutuskan untuk memberi tanda. Dengan mengikatkan sarung mereka. Hingga terbentuk sebuah bundelan.
“Untuk memberikan tanda, siapa kedua santrinya itu,” cerita Miftahul, tokoh warga setempat kala ditemui Jawa Pos Radar Bromo, beberapa waktu lalu.
Lantaran perilaku kedua santrinya sangat cakap dan sopan, Mbah Soleh pun lantas mempunyai rencana untuk mengambil mantu keduanya.
Kedua putra Mbah Ratu Ayu itu pun akhirnya dinikahkan dengan dua putri Mbah Soleh. Rupanya, kabar pernikahan itu didengar oleh Syarifah Khodijah.
Merasa tak terima karena tak diberi kabar soal pernikahan anaknya, Ratu Ayu pun melabrak Mbah Soleh kala itu.
Saat itu Mbah Ratu Ayu membawa pasukan dan senjata lengkap ke Pasuruan. Namun, saat tiba di pondok Mbah Sholeh, niatan Mbah Ratu Ayu untuk melabrak Mbah Soleh langsung berubah 180 derajat.
Ratu Ayu tertegun ketika ia mendengar suara anaknya mengaji. Saat itulah, niatan melabrak tidak jadi. Ratu Ayu merasa bahagia bisa melihat anaknya kembali.
Apalagi, dengan ilmu agama yang dimiliki. Ia pun merasa bangga terhadap kedua anaknya. Usai bertemu kedua anaknya, Ratu Ayu pun dipertemukan oleh anak-anaknya dengan mertua mereka, Mbah Sholeh.
Saat pertemuan itu, Mbah Sholeh menerima dengan baik kehadiran Ratu Ayu. Mbah Sholeh sendiri sebelumnya sudah tahu kalau Ratu Ayu akan datang ke pondoknya.
Usai kejadian itu, Ratu Ayu sempat tinggal tempat dua putranya belajar agama di Win ongan, Kabupaten Pasuruan. Selang beberapa waktu kemudian, Ratu Ayu memutuskan untuk balik ke Cirebon.
“Setelah dirasa sudah cukup singgah di Pasuruan, Ratu Ayu beranjak pulang. Jadi saat itu, hanya sebentar saja beliau singgah di Pasuruan,” jelas Miftahul.
Nah, saat perjalanan pulang itulah Ratu Ayu tiba-tiba mengalami sakit pada perutnya. Padahal perjalanan pulang ke Cirebon sendiri masih cukup jauh. Ratu Ayu pun akhirnya meninggal di Bangil.
“Tidak tahu sakitnya apa. Yang jelas, saat mengalami sakit parah pada perutnya, beliau men inggal dunia dalam perjalanan pulang ke Cirebon,” papar Miftahul.
Jenazah Ratu Ayu pun langsung dimakamkan di Kidul Dalem, Bangil, Pasuruan.
Semula, tak ada yang mengetahui keberadaan makamnya berada di Bangil, Pasuruan. Karena, pemakamannya, dilakukan di makam umum.
“Jadi kumpul dengan jenazah lainnya. Awal nya banyak yang tidak tahu kalau Ratu Ayu dikubur di Kidul Dalem,” beber Miftahul.
Seiring berjalannya waktu, pembangunan Bangil dilakukan. Hingga pemerintah, membangun gedung Dwikora, yang kini menjadi kawasan Swadesi Bangil.
Saat itulah, banyak makam yang dipindahkan. Namun, tidak dengan Ratu Ayu. “Entah karena apa. Yang jelas, makam Ratu Ayu tetap ada di tempatnya,” jelas Miftahul.
Sayangnya, bangunan tersebut, tak lama kemudian runtuh. Hingga akhirnya, tak ada lagi pembangunan. Dan jadilah kawasan gedung Dwikora itu seperti sekarang. Yakni swadesai dengan banyak rumah makan.
Pembangunan makam Ratu Ayu, mulai dilakukan setelah ada petunjuk kalau makam tak jauh dari swadesi itu, adalah milik Aulia. “Petunjuk itu, datang dari Mustofa, yang juga waliallah asal Lekok, Pasuruan. Yang meminta agar makam tersebut dijaga,” urainya.
Atas dasar petunjuk itu, kini makam Syarifah Khodijah terus dijaga oleh warga set empat. Bahkan, masjid pun didirikan agar para muslimin bisa berdoa dan mengenangnya.
“Sampai sekarang ini, tak kurang dari 2 ribuan jamaah datang setiap tahunnya, ke makam waliallah tersebut,” tutupnya. (iwan andrik/mie)
*Kisah ini telah terbit di Jawa Pos Radar Bromo pada 2012 silam
Editor : Muhammad Fahmi