PASREPAN, Radar Bromo - Tiga kali kebakaran yang melanda Pasar Pasrepan membuat para pedagang trauma.
Selama tiga kali kebakaran itu, ada fakta yang masih sama di lapangan. Yaitu, tidak ada hidran atau tandon air di Pasar Pasrepan.
Termasuk saat kebakaran yang ketiga kalinya di Pasar Pasrepan, Senin (9/9) dini hari. Orang pertama yang mengetahui kebakaran terjadi, kesulitan mendapat air.
Kepala Penjaga Pasar Pasrepan Ahmadi mengatakan, saat kebakaran terjadi Senin (9/9) dini hari, sebenarnya ada penjaga di pasar.
Penjaga pasar menurutnya memang selalu berjaga setiap hari. Dan hal itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Saat kebakaran itu, ada wakil saya, Pak Solihin yang berada di lokasi. Dia berada di pasar sebelah timur. Pak Solihin juga yang mengetahui pertama kali kebakaran,” ujar warga Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, ini.
Berdasarkan cerita dari Solihin menurutnya, dari area tengah blok los pasar terdengar bunyi percikan api. Saat itu sekitar pukul 02.00.
Solihin pun langsung mengecek untuk memastikan asal suara tersebut. Saat itulah, dia melihat api sudah berkobar.
Solihin pun langsung berlari mencari air untuk memadamkan api. Dia berlari menuju lapak pedagang kopi terdekat untuk meminta air.
Dari sana, Solihin mengambil air dan menyiramkan air ke api yang berkobar. Namun, usahanya sia-sia. Api malah makin membesar.
Hingga akhirnya kebakaran hebat tidak bisa dihindari. Untuk ketiga kalinya, Pasar Pasrepan terbakar.
Diakui Ahmadi, sampai saat ini di Pasar Pasrepan tidak tersedia APAR atau alat pemadam kebakaran ringan. Juga tidak ada tandon air.
Kapolsek Pasrepan AKP Slamet Wahyudi mengatakan, dua penjaga pasar yang diperiksa memang mengakui, tidak ada hidran di sekitar pasar. Bahkan, mereka mengaku kesulitan air di Pasar Pasrepan.
Slamet pun berharap, ke depan ada hidran yang disiapkan di sekitar pasar. Atau bisa juga tandon air.
“Jika tidak ada hidran, seharusnya menyediakan air dengan ditandon. Itu berguna untuk kebutuhan pedagang juga,” ujarnya. (zen/hn)
Editor : Achmad Syaifudin