BANGIL, Radar Bromo - Fenomena bediding, di mana suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya, menyelimuti Kabupaten Pasuruan dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena udara dingin di awal musim kemarau ini, tak hanya berdampak pada kenyamanan.
Tetapi juga kesehatan masyarakat. Terutama di wilayah dataran tinggi seperti Kecamatan Tosari, Tutur, dan Prigen.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pasuruan, dr. Arif Junaedi, menghimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bahaya kesehatan akibat bediding.
Cuaca dingin ekstrem dapat memicu hipotermia. Di mana suhu tubuh turun drastis di bawah normal. Dan menyebabkan berbagai gangguan fungsi tubuh.
“Gejalanya meliputi menggigil, kebingungan, kelelahan, hingga kehilangan kesadaran pada kasus parah,” katanya.
Kondisi lebih parah juga bisa terjadi bagi penyandang penyakit jantung atau pernapasan kronis. Bediding dapat memperburuk kondisi mereka.
Cuaca dingin menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah.
Hal ini dapat memicu serangan jantung. Atau memperparah sesak napas pada penderita asma dan bronchitis.
Disamping itu, virus influenza juga dapat lebih mudah menyebar. Serta, bertahan hidup pada suhu dingin dan kering, yang ideal bagi virus ini.
Sehingga ini meningkatkan risiko infeksi flu dan pilek selama bediding berlangsung.
“Virus influenza dapat menyebar dan bertahan hidup dengan baik pada suhu yang dingin dan kering, suhu yang ideal bagi virus influenza adalah 50 celcius. Ini akan memicu masalah pernapasan, terutama bagi penderita asma dan bronkitis,” imbuhnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin