BANGIL, Radar Bromo - Tingginya intensitas hujan, membuat normalisasi Sungai Wrati di Kecamatan Beji, tak maksimal.
Buktinya, baru 50 persen pelaksanaan normalisasi itu, terealisasi.
Padahal, pekerjaan pengerukan sedimentasi Sungai Wrati, sudah berlangsung empat bulan terakhir.
Di mana, kegiatan tersebut dilakukan dari ujung jembatan Cangkringmalang. Hingga ke arah muara di Desa Kedungboto, Kecamatan Beji.
“Target kami sepanjang 9 kilometer yang bisa dituntaskan,” kata Joys John, pengawas dari BBWS Brantas.
Namun, sejauh ini, baru 4,5 kilometer sungai yang sudah dinormalisasi.
Artinya, masih tersisa 50 persen aliran sungai yang mesti dikeruk. Pengerukan dilakukan hingga kondisi daya tampung sungai normal. Berbentuk trapesium dengan kedalaman di dua sisi sekitar 1 meter.
Sedangkan kedalaman bagian tengah sungai, mencapai 2 meter.
“Kemarin juga ketambahan di dua avour sungai yang juga perlu dinormalisasi,” imbuh Jhon.
Masing-masing normalisasi yang dilakukan di dua avour sungai itu, antara setengah hingga 1 kilometer.
John juga mengakui, jika normalisasi kali ini kerap menemui kendala. Lantaran sudah memasuki puncak musim hujan.
Dan lagi, kawasan Kedungringin dan Kedungboto, Kecamatan Beji, masih tergenang.
“Kendalanya kemarin, akses ke lokasi, ketika volume air naik selevel dengan tanggul. Tapi, untuk alat berat masih bisa beroperasi,” bebernya.
Disamping itu, kendala lainnya, juga banyaknya tanaman enceng gondok di sepanjang aliran sungai Wrati.
Kondisi itu, menurut John yang membuat pekerjaan lebih lama. Sebab, pihaknya harus lebih dulu membersihkan tanaman liar tersebut.
Sebelum mengeruk sedimentasi sungai.
“Tanamannya banyak dan cukup besar sehingga memakan waktu. Tapi, target kami 9 kilometer bisa dituntaskan,” jelasnya. (tom/one)
Editor : Abdul Wahid