BANGIL, Radar Bromo – Kemiskinan ekstrem menjadi salah satu prioritas Pemkab Pasuruan tahun ini.
Karena itu, bantuan sosial akan digelontorkan besar-besaran untuk warga miskim ekstrem.
Total 6.080 warga miskin ekstrem dianggarkan bantuan sosial melalui APBD 2024 Kabupaten Pasuruan.
Baca Juga: Waduh, Warga Miskin Ekstrem di Kabupaten Probolinggo Bertambah 6.500 Orang
Besarnya, Rp 200 ribu untuk masing-masing keluarga per bulan. Rencananya, bantuan itu akan diberikan pada akhir triwulan pertama tahun ini.
”Sehingga, dalam sekali penyaluran langsung menerima Rp 600 ribu,” terang Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin di Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan Sobikhul Asrori.
Ribuan keluarga penerima manfaat (KPM) bansos kemiskinan ekstrem itu sudah terdata dalam P3KE (Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem).
Sehingga, ada kemungkinan di antara mereka sebenarnya juga menerima bantuan pemerintah dari program lain.
Seperti program keluarga harapan, maupun bantuan pangan nontunai. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menjadi persoalan.
”Karena memang bansos ini sasarannya terkait penghapusan kemiskinan ekstrem,” katanya.
Di sisi lain, angka 6.080 itu sebenarnya baru sebagian kecil warga miskin ekstrem di Kabupaten Pasuruan.
Berdasarkan data Bappelitbangda Kabupaten Pasuruan, ada 207.389 keluarga yang tergolong miskin ekstrem.
Artinya, tidak semua warga miskin ekstrem ter-cover bansos dari APBD.
Pj Bupati Pasuruan Andriyanto menjelaskan, ada banyak indikator dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Pemberian bansos hanya salah satu strategi yang diterapkan pemerintah saat ini.
“Banyak warga yang menempati rumah tidak layak huni juga masuk dalam kategori miskin ekstrem. Artinya, pengentasan kemiskinan ekstrem ini memang harus keroyokan. Tidak hanya dari bansos,” bebernya.
Menurutnya, stimulan dana untuk merehabilitasi rumah tidak layak huni yang sudah dianggarkan pemerintah juga akan memengaruhi angka kemiskinan ekstrem.
”Harapan kami, dengan anggaran yang ada di Dinsos, maupun Perkim 2024 ini, kemiskinan ekstrem sudah zero,” ujarnya. (tom/hn)
Editor : Achmad Syaifudin