BANGIL, Radar Bromo - Sejumlah pegiat dan pelestari budaya memprotes wacana Pemkab Pasuruan menjadikan senjata monteng sebagai ikon daerah. Mereka menilai senjata yang identik dengan figur Pak Sakera tersebut masih kontroversial.
Rachmat Tjahjono, salah satu pegiat Tosan Aji menegaskan, dirinya tidak menafikan perjuangan Pak Sakera di Pasuruan. Meski demikian, menjadikan monteng sebagai ikon daerah juga tidak bisa dibenarkan begitu saja.
”Penetapan ikon daerah harus dikaji secara mendalam,” kata Tjahjono dalam Rembuk Budaya di Padepokan Mpu Yoyon di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, kemarin (22/1).
Terlebih, beberapa literasi menyebutkan bahwa monteng bukanlah pusaka khas Pasuruan. Senjata yang kemudian berkembang serupa celurit itu justru berasal dari Pulau Garam, Madura.
Pak Sakera yang berdarah Madura selalu membawa senjata itu di Pasuruan selama masa perjuangan kemerdekaan. Sehingga, monteng pun jadi banyak dikenal.
”Perjuangan Pak Sakera di Pasuruan memang fakta sejarah. Tetapi, bukan berarti kita bisa secara mentah mengklaim monteng sebagai pusaka khas Pasuruan yang bisa dijadikan ikon daerah,” beber Tjahjono.
Ayi Suhaya yang juga kolektor pusaka menyebut, wacana senjata monteng sebagai ikon daerah merupakan penyesatan sejarah. Lebih-lebih, Pasuruan sendiri punya pusaka khas seperti keris Winongan.
Dan itu bisa dibuktikan dengan situs-situsnya. Termasuk petilasan Joko Unthuk dan Angrang Kusuma yang juga dikenal sebagai Mpu Keris Winongan.
”Dan sampai sekarang, Keris Winongan masih dilestarikan oleh mpu-mpu muda,” ujar Ayi.
Wacana menjadikan monteng sebagai ikon Kabupaten Pasuruan sendiri mencuat dalam sarasehan budaya yang digelar Pemkab Pasuruan beberapa waktu lalu.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Pasuruan Diano Vela Fery mengatakan, wacana tersebut semata untuk memperkaya khazanah daerah.
”Misalnya untuk motif batik, kan kita sudah punya krisan, penanjakan Bromo, dan bunga sedap malam yang semua itu khas Kabupaten Pasuruan. Sementara motif khas yang bukan tanaman selama ini kita belum punya,” ungkap Diano.
Dia menambahkan, pemerintah memiliki kajian yang cukup mengenai perjuangan Sakera di Pasuruan.
Termasuk senjata monteng yang dipakainya. Apalagi selama ini, menurut Diano, monteng belum didaftarkan daerah manapun di HAKI sebagai senjata khas daerah.
”Kalau kita melihat daerah lain seperti Jawa Barat, punya kujang. Aceh punya rencong. Monteng ini memang senjata yang dipakai Pak Sakera dan belum ada yang mendaftarkan ke HAKI. Kalau celurit kan Madura,” ungkap dia.
Meski begitu, Diano juga terbuka menyikapi pandangan sejumlah pegiat yang menyodorkan keris Winongan sebagai ikon daerah.
Menurutnya, semakin banyak ikon yang dimunculkan, akan semakin bagus. Artinya, kekayaan Kabupaten Pasuruan bisa tampak di permukaan.
”Tidak ada monopoli. Tujuan kami mengangkat kekayaan khazanah khas Kabupaten Pasuruan. Justru harapan kami potensi lain seperti keris Winongan juga bisa dikaji dan bisa dimunculkan di museum kita,” pungkas Diano. (tom/hn)
Editor : Achmad Syaifudin