BANGIL, Radar Bromo - Tudingan korupsi saat demonstrasi siswa SMAN 1 Taruna Madani, membuat pihak Kepsek, Imron Rosidi "berang". Ia pun berencana untuk menempuh ke jalur hukum atas tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Hal itu diungkapkan Imron Rosidi di kantornya, Jumat (3/11). Menurut Imron, aksi demonstrasi itu dilakukan hanya oleh segelintir siswa. Siswa yang berunjuk rasa, adalah SMAN 1 Taruna Madani (SMANSATAR) reguler. Bukan siswa SMANSATAR Boarding.
"Mereka yang berunjuk rasa, hanya sebagian kecil siswa SMANSATAR reguler saja. Tidak keseluruhan. Bahkan, bukan dilakukan oleh siswa SMANSATAR Boarding," ungkap Imron.
Ia menambahkan, beberapa hal memang menjadi tuntutan. Salah satunya, soal ekstrakulikuler (ekskul). Tidak jalannya ekstrakulikuler di sekolah setempat, karena komite sekolah, baru mengumpulkan orang tua siswa. Khususnya kelas 11 dan 12.
Uang sumbangan belum ada yang masuk. Sehingga, ini yang menjadi kendala pelaksanaan ekskul. "Apalagi menurut pihak kesiswaan, setiap ekskul diberi kuota dalam pengeluaran anggarannya,” katanya.
“Ini yang akhirnya mempengaruhi kegiatan ekskul di sekolah. Kami baru mengumpulkan orang tua untuk membicarakan hal ini di tengah semester, karena sebelumnya belum ada izin dari Kacabdin," timpal dia.
Begitu juga soal konsumsi yang disebut-sebut ada kecoanya. Temuan itu, didapati saat siswa tampil drumband di Tugu Pahlawan Surabaya. Nasi tersebut, ditaruh di truk Angkatan Laut dari Bangil ke Surabaya.
"Mungkin ada satu wadah yang kejatuhan kecoa, dari 150 kotak yang ada. Dan dari situlah, akhirnya dibesar-besarkan. Begitu juga dengan tudingan adanya set. Itu bukan set, tapi ulat sayur," beber dia yang menyebut kalau SMAN 1 Bangil telah melebur menjadi SMAN 1 Taruna Madani.
Hal yang paling menyakitkan, tudingan korupsi yang dialamatkan kepadanya. Imron merasa tudingan tersebut merupakan fitnah. Karena tanpa ada bukti, namun menuduhnya sebagai seorang yang korup.
Tudingan itu bahkan sempat diungguh di media sosial, berupa instagram. Tampilannya pun membuat hatinya sedih. Karena digambarkan ada tikus dan dengan kata-kata yang tak pantas.
"Ini membuat saya sangat sedih. Tanpa ada bukti, namun menuding saya ini seolah-olah koruptor," paparnya.
Hal inilah yang membuatnya memilih untuk menempuh jalur hukum. Agar dalang dari demontrasi dan tudingan korupsi tersebut, bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hukum.
"Saya sudah menunjuk pengacara untuk memproses kasus yang saya alami," tandas dia.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, aksi demonstrasi dilakukan pelajar SMAN 1 Taruna Madani di Bangil. Mereka melancarkan aksi demonstrasi itu saat upacara Sumpah Pemuda.
Beberapa hal menjadi tuntutan. Dari fasilitas yang dianggap tak memadai, hingga tudingan pihak kepala sekolah melakukan korupsi.
Aksi demonstrasi itu, memantik reaksi dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Sehari setelah demonstrasi, langsung datang ke lokasi dan kini tengah melakukan investigasi. (one/fun)
Editor : Ronald Fernando