BANGIL, Radar Bromo - Kecamatan Bangil sudah lama ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan. Namun, sejauh ini belum ditunjang dengan penataan kota yang mumpuni.
Salah satunya terlihat dari jalur di Kota Bangil. Jalan utama di pusat kota masih kerap dilalui kendaraan besar. Di daerah lain, pusat kota steril dari kendaraan besar, seperti dump truck.
“Tapi, di Bangil, masih banyak ditemukan hulu lalang kendaraan besar. Seperti dump truck hingga kontainer, melintas di ruas jantung kota,” ujar Ketua Fraksi Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Shobih Asrori.
Gus Shobih–sapaan Shobih Asrori–memandang, harus ada jalur alternatif yang dibuat pemerintah daerah untuk mengalihkan kendaraan besar. Hal ini untuk memastikan jalur di pusat Kota Bangil benar-benar steril.
Tidak ada kendaraan besar melintas. Karena itu juga berkaitan dengan kenyamanan, serta keselamatan warga. “Baik JLS (jalur lingkar selatan) ataupun JLU (jalur lingkar utara) perlu diwujudkan. Ini bukan sekadar untuk mengatasi persoalan kemacetan di ibu kota Bangil. Tetapi, juga kenyamanan dan keselamatan warga,” bebernya.
Pembangunan JLS bisa diwujudkan dengan konsep yang sudah disiapkan sebelumnya. Yakni, melewati Yonkav Beji hingga menembus Masangan, Kecamatan Bangil.
“Pembangunan jalur alternatif ini penting. Karena berkaitan dengan penataan kota. Hampir semua daerah tidak lagi memperkenankan kendaraan besar, seperti truk, melintas di jalur kota. Ada jalur tersendiri,” jelasnya.
Sekda Kabupaten Pasuruan Yudha Tri Widya Sasongko mengatakan, pembangunan jalur alternatif seperti JLS masih butuh kajian. Hal ini berkaitan dengan fungsi hingga penganggarannya. “Kami masih membutuhkan kajian untuk merealisasikannya,” ujarnya. (one/rud)
Editor : Ronald Fernando