Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mahasiswa Minta Ganti Nama DPR Jika Tidak Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Ronald Fernando • Jumat, 22 April 2022 | 15:38 WIB
BERSITEGANG: Saling dorong antara mahasiswa dan polisi terjadi di kantor DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
BERSITEGANG: Saling dorong antara mahasiswa dan polisi terjadi di kantor DPRD Kabupaten Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
BANGIL, Radar Bromo - Saling dorong mewarnai unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD Kabupaten Pasuruan, Kamis (21/4). Pendemo dan  penjaga keamanan terlibat ketegangan.

Photo
Photo
PROTES KEBIJAKAN: Aksi mahasiswa saat orasi di kantor DPRD Kabupaten Pasuruan, Kamis (21/4). (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Demo digeber oleh Aliansi Gerakan Masyarakat Mahasiswa Pasuruan (Gerampas). Sekitar pukul 14.30, mahasiswa dan gabungan masyarakat mendatangi kantor dewan. Menyuarakan unek-unek mereka. Di antaranya, menyoroti persoalan nasional yang berdampak luas terhadap masyarakat, khususnya Kabupaten Pasuruan.

Ada isu perpanjangan masa jabatan presiden ataupun periodesisasi jabatan presiden. Mereka mendesak reshufle terhadap menteri yang menyuarakan isu-isu tersebut. Mahasiswa juga mendorong presiden mengambil sikap atas melambungnya harga minyak goreng. Menindak pihak-pihak yang terlibat kasus mafia minyak goreng.

Isu lain berkaitan dengan perpindahan ibu kota. Dananya tidak sedikit. Perindahan itu kota itu berefek besar pada keuangan negara. Akibatnya, terjadi kenaikan harga dan pajak. Seperti BBM maupun PPN.

Salah satu orator Gerampas, Musyawir, menyebut DPRD seharusnya menunjukkan fungsinya. Memperjuangkan aspirasi masyarakat. Sebab, kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut jelas membuat masyarakat kecil semakin menderita.



Dewan Perwakilan Rakyat, tegas dia, tidak lagi patut disebut DPR jika  aspirasi masyarakat tidak didengar. Bahkan, lebih patutnya, disebut Dewan Pemerkosa Hak-hak Rakyat. ”Kami ganti. Bukan Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi Dewan Pemerkosa Hak-Hak Rakyat,” pekik mahasiswa.

Orator lain, Ghozi, memandang sebaiknya bubarkan saja DPR maupun DPRD. Karena hanya mementingkan oligarki. Condong kepada pemerintah dan membunuh demokrasi. ”Sebaiknya bubarkan saja kalau tidak mendengarkan rakyat,” tandasnya.

Aksi dorong-dorongan terjadi ketika orator meneriakkan maju satu langkah. Sementara di hadapan mereka sudah ada pagar polisi yang berjaga. Ketegangan terjadi. Setelah mahasiswa tak kunjung melihat anggota dewan yang hadir untuk menemui.

Setelah itu, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan datang menemui mereka. ”Kami akan menyampaikan aspirasi ini ke DPR RI dan pemerintah pusat,” sampainya.

Dion –sapaannya- tak diperkenankan banyak bicara oleh mahasiswa. Mereka hanya meminta kesanggupan untuk menyerahkan aspirasi tersebut ke pusat. ”Kami tidak mau mendengar klarifikasi. Kami hanya mau, Anda menyerahkan aspirasi ini ke pusat,” timpal pendemo.

 

Aspirasi Mahasiswa Pasuruan

(one/far) Editor : Ronald Fernando
#turunkan bbm #dprd kabupaten pasuruan #periode presiden #unjuk rasa mahasiswa