Selasa (28/12), penolakan itu diungkapkan melalui spanduk yang berada di jalan raya Kalirejo, Kecamatan Bangil. Juga pamflet yang bertebaran di jalanan. Bahkan, muncul petisi penolakan SMAN 1 Bangil untuk dijadikan SMAN 1 Taruna Madani.
Bukan tanpa alasan. Ada kekhawatiran biaya pendidikan makin mahal. Juga ketakutan pemberlakuan nonzonasi saat menjadi SMAN 1 Taruna Madani.
Sementara faktanya, SMAN 1 Bangil merupakan satu-satunya lembaga pendidikan SMA negeri yang ada di Bangil. Jika SMAN 1 Bangil benar-benar menjadi SMAN 1 Taruna Madani, ada ketakutan warga Bangil sendiri justru tidak bisa sekolah di tempat itu.
Gomad, 37, warga Bangil mengaku, ada beberapa hal yang mengganjal dalam benaknya dengan rencana transformasi SMAN 1 Bangil menjadi SMAN 1 Taruna Madani. Salah satunya berkaitan dengan penerimaan siswa.
Saat ini berlaku sistem zonasi dalam penerimaan pendidikan. Sementara pendidikan SMAN 1 Taruna Madani tidak terikat dengan zonasi. Pelajar dari berbagai daerah bisa mendaftar.
Kondisi ini akan membuat pelajar Bangil sendiri kesulitan untuk mendapatkan pendidikan SMA Negeri di Bangil. Selain harus bersaing dengan pelajar se-Indonesia, juga terkendala dengan zonasi.
Seperti yang diketahui, SMAN 1 Bangil merupakan satu-satunya lembaga pendidikan tingkat SMA negeri yang ada di Bangil. Jika SMAN Taruna Madani dibuka untuk siswa seluruh Indonesia, kesempatan pelajar Bangil sendiri untuk sekolah di sana akan makin kecil.
Sementara untuk melanjutkan ke SMA di Gempol atau ke Pandaan misalnya, mereka akan kesulitan. Sebab, terganjal masalah zonasi.
“Lalu, ke mana adik-adik kami harus bersekolah SMA Negeri? Apa harus ke swasta? Menurut saya harusnya dihapuskan saja kebijakan zonasi sekolah,” beber alumni SMAN 1 Bangil angkatan 2002 tersebut.
Persoalan lainnya berkaitan dengan materi pendidikan. Rencananya, SMAN 1 Taruna Madani akan menggabungkan tiga pendidikan. Yaitu, pendidikan akademik, kesamaptaan, dan keimanan.
Masalahnya pada pendidikan keimanan. Seperti diketahui, kata Gomad, warga Bangil merupakan masyarakat yang beragam. Semua siswa ditampung, tidak memandang agama.
“Kalau jadi SMAN 1 Taruna Madani, seperti apa nantinya merangkul semua agama. Ini juga bisa menjadi persoalan. Kan tidak mungkin harus memaksakan pelajar yang berbeda agama untuk mengikuti satu agama saja,” tandasnya.
Yang juga krusial, ungkap Gomad, berkaitan dengan biaya sekolah. SMAN 1 Taruna Madani rencananya memberlakukan pendidikan dengan sistem boarding school. Siswa tinggal di asrama.
Hal ini jelas akan membuat biaya pendidikan di SMA setempat makin tinggi dari biasanya. Ia khawatir, pendidikan di SMAN 1 Taruna Madani tak mampu dijangkau orang tua.
“Kalau orang tua siswa kaya, mungkin tidak masalah. Lalu, bagaimana yang tidak mampu, kasihan kan. Kami tidak menolak kalau demi pendidikan yang baik. Tapi, kalau harus membebani masyarakat, inilah yang kami pertanyakan,” urainya.
Pemerhati Pendidikan asal Bangil, Mukhlis memandang, pendirian SMAN 1 Taruna Madani tentu menjadi hal yang membanggakan. Karena tidak semua daerah memilikinya. Di Jawa Timur, baru ada empat sekolah.
Yakni, SMAN Nala di Malang, SMAN Angkasa di Madiun, SMA Brawijaya di Kediri, dan SMA Bhayangkara di Banyuwangi. Masalahnya, di Bangil hanya ada satu SMA Negeri. Dan satu-satunya tersebut adalah SMAN 1 Bangil yang akan dijadikan SMAN 1 Taruna Madani.
“Harusnya, dibangunkan gedung sendiri. Tidak mengubah SMAN 1 Bangil menjadi SMAN 1 Taruna Madani. Biar pelajar asal Bangil yang ingin menempuh pendidikan SMA negeri bisa terakomodasi,” timpalnya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin