Mereka memilih untuk mengalihkan ke tempat lain. Gedung asrama Polres Pasuruan di Pogar, Kecamatan Bangil, akhirnya dipilih untuk menjadi pengganti.
Camat Bangil Komari mengungkapkan, pemindahan gedung isoter tersebut bukannya tanpa alasan. Langkah ini untuk menghindari gejolak di tengah masyarakat. Sebab, meski sudah memberikan edukasi, masih ada warga dan wali murid yang menolak pemanfaatan gedung SMPN 2 Bangil menjadi isoter.
“Kami tidak ingin berpolemik di tengah upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat isoter. Makanya, kami memilih mengalah untuk mencari tempat yang lain,” bebernya.
Gedung asrama Polres Pasuruan akhirnya dipilih sebagai tempat isoter dengan beberapa pertimbangan. Selain jauh dari kawasan penduduk, gedung tersebut tidak berpenghuni. Sehingga dinilainya perlu untuk dimanfaatkan.
“Sudah kami lakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Akhirnya disepakati gedung rusun untuk asrama Polres Pasuruan dijadikan isoter,” imbuhnya.
Belum dipastikan kapan gedung itu mulai difungsikan. Karena saat ini, kata Komari, proses penataan masih dilakukan. “Sedang dilakukan penataan. Seperti penyiapan tempat tidurnya,” ulasnya.
Gagalnya rencana pemanfaatan SMPN 2 Bangil menjadi gedung isoter, membuat sejumlah wali murid gembira. Henry Sulfianto, salah satu wali murid mengaku bersyukur tempat isoter dipindahkan. Tidak lagi memanfaatkan gedung SMPN 2 Bangil.
“Kami bersyukur. Karena memang, gedung SMPN 2 Bangil tidak layak untuk jadi isoter. Mengingat, kawasan setempat merupakan tempat pendidikan,” jelasnya.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan Ruslan memandang, tempat pendidikan memang tidak seharusnya menjadi tempat isoter. Karena, hal tersebut menyangkut nasib anak didik.
“Masih banyak tempat yang bisa digunakan untuk isoter. Dan kami tidak menghendaki kalau tempat isoter memanfaatkan sekolah,” tandasnya. (one/hn) Editor : Fandi Armanto