Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Warga Sekitar SMPN 2 Bangil Menerima Isoter, Asalkan Begini

Jawanto Arifin • Sabtu, 31 Juli 2021 | 12:45 WIB
BERI PENJELASAN: Camat Bangil saat mengedukasi warga berkaitan dengan rencana isoter di SMPN 2 Bangil. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
BERI PENJELASAN: Camat Bangil saat mengedukasi warga berkaitan dengan rencana isoter di SMPN 2 Bangil. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
BANGIL, Radar Bromo - Sempat menolak, warga mulai bisa menerima rencana pemanfaatan gedung SMPN 2 Bangil sebagai tempat isolasi terpusat (isoter). Meski demikian, ada juga yang kukuh menolak.

Warga mau menerima setelah Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Bangil memberikan pemahaman. Satgas mendatangi langsung sejumlah rumah wali murid dan warga yang tinggal di sekitar sekolah, Jumat (30/7). Pada mereka, Satgas memberikan pemahaman tentang pentingnya isoter.

Namun, pemahaman warga bukannya tanpa konsekuensi. Ada sejumlah syarat yang diajukan warga dan harus dipenuhi oleh Satgas.

Camat Bangil Komari mengungkapkan, penolakan terjadi karena warga takut keberadaan isoter akan menularkan Covid-19 kepada warga sekitar. Padahal, pemerintah daerah tidak akan mengorbankan warganya untuk menyembuhkan warga yang lain. Antisipasi tentu dilakukan, seperti sterilisasi berkala.

“Karena ada kekhawatiran itulah kami mendekati warga untuk memberikan pemahaman,” kata Komari.

Sebenarnya, rara-rata warga sekitar menerima pemanfaatan SMPN 2 Bangil sebagai isoter. Namun, warga menyertakan sejumlah persyaratan. Di antaranya, tidak menggunakan jalan kampung untuk akses keluar masuk ke SMPN 2. Lalu, melakukan sterilisasi berkala dan bantuan multivitamin pada warga sekitar.

“Kami sampaikan, semua itu akan dilakukan. Jalan yang semula akan memanfaatkan jalur permukiman, tidak lagi. Karena memanfaatkan jalan raya. Begitu juga dengan multivitamin dan sterilisasi, tentu akan diberikan,” sambung dia.

Yani, 56, salah satu warga Kalirejo, Kecamatan Bangil, mengaku rencana pemerintah menyiapkan isoter sebenarnya bagus. Karena, mereka yang terjangkit Covid-19 lebih bisa terpantau. Ketimbang isolasi mandiri, pasien rentan bepergian dan menularkan ke orang lain.

“Sebenarnya kalau saya pribadi, setuju-setuju saja. Silakan,” bebernya.

Ia pun tak berkeberatan kalau SMPN 2 Bangil dimanfaatkan sebagai tempat isoter. Hanya saja, pemerintah harus menjamin keamannya untuk warga. Jangan sampai, malah menyebarkan wabah di wilayah setempat.

Ketua RT 1/RW 3 Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Bangil, Agus Imam Samsul mengungkapkan, rencana memanfaatkan gedung SMPN 2 Bangil menjadi isoter memang membuat warga panik. Mereka takut, virus korona menjangkiti mereka.

Tapi, pelan-pelan warga mulai memahaminya. Sehingga, tidak sedikit yang akhirnya menerima.

“Awalnya memang takut, karena tidak ada sosialisasi. Tiba-tiba gedung SMPN 2 ini mau jadi isoter. Tapi, setelah ada pemahaman mereka mulai menerima,” bebernya.

Tentu saja dengan beberapa syarat yang diajukan warga. Di antaranya, tidak memanfaatkan jalan kampung, sterilisasi digencarkan dan support multivitamin untuk warga.

“Kalau semua itu dipenuhi, warga setuju kok,” sambung Agus yang juga seorang wali murid di SMPN 2 Bangil.

Meski begitu, ada pula yang masih kukuh menolaknya. Salah satunya, Henry Sulfianto, seorang wali murid di SMPN 2 Bangil. Bahkan, ia mengaku telah mengadukan persoalan ini ke legislatif. Agar ada audiensi berkaitan dengan hal tersebut.

“Kami tetap menolak. Kami sudah layangkan surat ke dewan, untuk audiensi,” pungkasnya. (one/hn) Editor : Jawanto Arifin
#ppkm darurat #covid-19 kabupaten pasuruan #isolasi terpusat ditolak #isolasi terpusat kabupaten pasuruan