Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Candi Gununggangsir Bentuk Penghormatan pada Mbok Rondo Darmo

Jawanto Arifin • Minggu, 14 Februari 2021 | 16:00 WIB
SPOT SELFIE: Bangunan Candi Gununggangsir yang berlokasi di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Candi ini dibangun sekitar abad ke 11. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
SPOT SELFIE: Bangunan Candi Gununggangsir yang berlokasi di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Candi ini dibangun sekitar abad ke 11. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Candi Gununggangsir merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih lestari hingga saat ini. Meski dibangun pada kisaran abad ke 11 di era pemerintahan Raja Airlangga, kondisi candi tersebut, masih kokoh hingga saat ini. Keberadaannya pun, menjadi tempat untuk belajar sejarah para anak sekolah.

-----------------

BILA dari ibu kota Kabupaten Pasuruan, Bangil, jarak tempuh Candi Gununggangsir, sekitar 8 kilometer. Tidak butuh waktu lama, jika menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju lokasi. Karena hanya butuh waktu tak sampai 30 menit.

Sesuai namanya, Candi Gununggangsir, berada di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Sebenarnya, candi tersebut dulunya dikenal dengan nama Keboncandi. Namun, lantaran lokasinya yang berada di Desa Gununggangsir, maka penduduk sekitar lebih banyak menyebutnya sebagai nama Candi Gununggangsir.

Tak banyak referensi tentang sejarah Candi Gununggangsir. Konon, Candi Gununggangsir dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Nyi Sri Gati atau Mbok Rondo Darmo (janda murah hati). Ia merupakan tokoh legenda, yang dipercaya memainkan peran penting dalam perkembangan desa.

Dulunya, masyarakat sekitar disebut-sebut belum mengenal cara bercocok tanam. Karena kebanyakan, mereka hidup sebagai pengembara. Makanan pokok mereka, adalah jenis rerumputan. Hingga suatu hari, persediaan pangan warga mulai menipis.

Ketika itulah, Nyi Sri Gati mengajak para pengembara tersebut, untuk berdoa. Harapannya, mereka bisa mengatasi masalah yang dialami. Selang beberapa waktu kemudian, segerombolan burung sebangsa gelatik yang membawa padi-padian terbang di sekitaran mereka.

Burung-burung itu lantas menjatuhkan padi-padian dekat mereka. Disebutkan dalam kisah yang ada, sebagian padi-padian tersebut berubah menjadi permata hingga membuat Nyi Sri Gati menjadi kaya raya.

Sementara, sebagian padi lainnya, ditanam dan tumbuh subur. Berangkat dari situlah, kebutuhan pangan pengembara tersebut teratasi. Sejak itupula, banyak yang memilih untuk menetap dan bercocok tanam.

Photo
Photo
SUDAH DIPUGAR: Candi Gununggangsir pernah direnovasi yakni di bagian batu merah yang rusak hingga pembangunan pagar di sekitar lokasi. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebagai penghormatan terhadap Nyi Sri Gati itulah yang disebut-sebut menjadi latar belakang pendirian Candi Gununggangsir di masa lalu. Candi Gunununggangsir sendiri memiliki ketinggian hingga 15 meter. Di mana, ukurannya sekitar 15 x 15 m2.

Seiring peradaban waktu, tidak sedikit dari bagian candi yang mengalami kerusakan. Hingga kemudian, BPCB Trowulan Jatim melakukan renovasi. Juru pelihara Candi Gununggangsir, Enong menguraikan, renovasi dilakukan sejak 2004 yang lalu.

Renovasi itu dilakukan bertahap, untuk menjaga kelestarian bangunan Candi Gununggangsir. “Selama kurun waktu lebih dari 10 tahun lamanya, renovasi dilakukan. Penggantian batu merah yang rusak hingga pembangunan pagar yang rusak dilakukan, untuk menjaga kelestarian candi di sini,” beber dia.

Enong menambahkan, Candi Gununggangsir memang masih menjadi jujukan untuk sarana pembelajaran. Tidak sedikit pelajar yang berdatangan ke candi setempat. Rata-rata memang dari wilayah Kabupaten Pasuruan.

 

Pengunjung Turun saat Pandemi

Pandemi Covid-19 memang mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan di Kabupaten Pasuruan. Ada penurunan pengunjung yang berdatangan. Ini juga terjadi di Candi Gununggangsir.

Sebelumnya, tempat ini bisa sampai ratusan pengunjung sebulan. Namun sekarang, rata-rata puluhan.

“Kalau dulu, dari Sidoarjo dan daerah lain, masih ke sini. Tapi, karena pandemi, rata-rata saat ini, pelajar dari wilayah Kabupaten Pasuruan. Sebenarnya, bukan hanya pelajar. Karena, masyarakat umum, juga banyak yang ke sini,” ujar Enong, juru bicara Candi Gununggangsir.

Tidak hanya menjadi tempat untuk belajar sejarah. Candi Gununggangsir tersebut, kerap dijadikan spot selfi. Terutama bagi goweser.

“Biasanya para pesepeda, mampir ke sini untuk istirahat. Mereka juga menyempatkan diri untuk selfi di kawasan candi,” timpalnya.

Selebihnya, Candi Gununggangsir biasanya dikunjungi saat weekend atau hari libur. Umumnya mereka yang datang sebagian besar memang ingin mencari spot untuk berfoto.

Seperti yang dilakukan Andri Dinar, wisatawan asal Surabaya. Dia mengaku, kerap mengunjungi bangunan cagar budaya. “Kebetulan seharian ini saya dari Candi Jawi, langsung kemari (Gununggangsir, Red). Pekan-pekan sebelumnya, saya juga berkunjung ke temuan-temuan situs di Pasuruan. Belakangan kan banyak temuan situs baru di Pasuruan. Saya tahunya di berita-berita, dan mesti saya sempatkan berkunjung,” bebernya.

Nah, Andri sendiri mengaku, sudah lama tak berkunjung ke Candi Gununggangsir. “Pernah beberapa tahun silam, saat masih ada pemugaran. Sebagai penyuka cagar budaya, tentu saja senang melihat bangunan sejarah masih terawat,” beber dia. (one/fun) Editor : Jawanto Arifin
#candi gunung gangsir #mbok rondo darmo #candi pasuruan