Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Geliat Kerajinan Ronce Melati di Bangil yang Kewalahan Ketika Musim Manten

Jawanto Arifin • Sabtu, 14 Desember 2019 | 17:00 WIB
Photo
Photo
Ronce melati merupakan kerajinan turun temurun di wilayah Lumpang Bolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil. Kerajinan untuk aksesori manten ini terus berkembang, hingga banyak warga yang menggelutinya. Sampai-sampai, lingkungan Lumpang Bolong dikenal sebagai kampung ronce melati.

-------------------

Tangan Urifah, 53, tampak sibuk. Matanya fokus pada helaian benang yang disambungkannya pada lubang jarum untuk menjahit. Ia tidak sedang menjahit celana ataupun baju. Melainkan, menjahit ujung-ujung bunga melati yang ada di depannya.

Satu persatu bunga melati dikaitkannya. Hingga tercipta rangkaian yang indah. Rangkaian dari bunga melati itu, selanjutnya tinggal disesuaikannya. Apakah untuk sanggul, tiban dada, atau untuk hiasan tubuh lainnya.

Butuh waktu untuk mengerjakannya. Biasanya, untuk menyelesaikan satu set ronce melati, bisa memakan waktu seharian. Bahkan, bisa lebih.

“Biasanya ada yang membantu. Supaya lebih cepat menyelesaikan ronce melati pesanan orang,” kata perempuan asal Lumpang Bolong, Kelurahan Dermo, Kecamatan Bangil, ini.

Aktivitas yang dilakukan Urifah, dinamai ronce melati. Ronce melati itu, biasanya dimanfaatkan untuk hiasan atau aksesori pengantin saat pernikahan.

Ragamnya bermacam-macam. Biasanya, untuk hiasan rambut, seperti sanggul. Atau untuk hiasan dada, seperti tiban dada atau hiasan yang lainnya.

Kerajinan pembuatan ronce sudah ditekuninya sejak masih muda. Mulanya, ia ikut-ikutan bibinya. Namun, lambat laun ia memulai usaha ronce sendiri.

“Saya belajar ngeronce sejak umur 21 tahun. Ketika itu, belajar pada Bulik yang perajin ronce. Setelah bisa, saya akhirnya membuka usaha sendiri dan menerima order sendiri,” sambungnya.

Mulanya, tak mudah belajar ngeronce. Butuh ketelatenan dan kesabaran. Karena membuat ronce melati, tak jarang “menjemukan”.

Ia mengaku, dulu belajar sekitar semingguan. Ketika itu, ia sering membuat kesalahan. Berkali-kali pembuatan ronceannya gagal. Mulai dari melatinya yang rusak, hingga benang yang bulet. Namun, ia tak menyerah. Sampai akhirnya, ia mahir membuat ronce.

Awalnya, ia hanya mengerjakan order yang diberi bibinya. Namun, lambat laun ia mulai menerima order sendiri. Sampai akhirnya ia bisa mandiri.

Pesanan ronce melati buatannya, datang dari beberapa daerah. Tidak hanya lokal Pasuruan, tetapi juga sampai Surabaya. Harganya bervariasi. Dari yang hanya Rp 150 ribu per set, hingga Rp 250 ribu per set.

Order yang datang, kebanyakan ketika musim pernikahan. Ia bahkan sampai kualahan menerima pesanan. Sebab, saat musim pernikahan, jumlah pesanan meningkat.

“Bisa lebih dari sepuluh set kalau momen pernikahan. Seperti bulan-bulan Bakda Maulud, Syawal, Rajab, atau momen pernikahan lainnya. Tapi, kalau bukan momen pernikahan, relatif sepi. Bahkan, bisa tidak ada pesanan,” ungkap dia.

Menurut perempuan kelahiran 14 September 1966 ini, bukan hanya dirinya yang menjadi perajin ronce melati di wilayah Lumpang Bolong. Karena kerajinan serupa dilakoni ibu-ibu lainnya.

Salah satunya, Ayu, 25. Ia mengaku, sudah bisa ngeronce sejak SMP. Kerajinan ronce tersebut, dilakoninya ketika ada pesanan yang datang. “Hanya ketika ada pesanan saja,” kata perempuan yang merupakan ibu rumah tangga tersebut.

Ia mengaku, hampir tak ada kendala untuk meronce. Termasuk bahan baku. Karena di wilayahnya, bahan baku melati banyak tersedia. Kalaupun kosong, bisa mencarinya ke luar kota. Seperti Surabaya.

Memang, kata Ayu, ada masa saat harga bahan baku mahal. Seperti ketika memasuki bulan Besar. Bisa sampai Rp 300 ribu per kilogramnya. Kalau sudah begitu, mau tidak mau perajin ronce memasang tarif tinggi menyesuaikan harga bahan baku.

Lurah Dermo, Kecamatan Bangil, Ifan Gunadi menguraikan, kerajinan ronce memang sudah lama ditekuni warga setempat. Bahkan, bertahun-tahun hingga menjadi kerajinan turun temurun.

Sekarang ini, perajin ronce terus berkembang. Tak salah jika Lumpang Bolong juga dikenal sebagai kampung ronce melati. “Banyak warga yang menekuni kerajinan ronce melati di wilayah setempat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kerajinan ronce melati memiliki potensi, khususnya untuk sektor wisata. Ke depan, pihaknya berangan-angan untuk menjadikan kampung ronce sebagai destinasi wisata.

“Termasuk pengembangan baru, berupa penyulingan minyak melati. Ke depan, kami ingin mewujudkan kampung ronce tersebut sebagai destinasi wisata edukasi. Harapan kami, ada support dari Pemkab untuk mendukungnya,” pungkas dia. (one/hn/fun) Editor : Jawanto Arifin
#ronce melati #kerajinan ronce