IWAN ANDRIK, Bangil
Luar biasa. Mungkin kalimat itu yang pantas disematkan untuk Muhammad Hanif Ramadan. Bocah asal Jl. Bandeng, RT 1/RW 1, Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu benar-benar menjadi bintang di ajang Singa Cup tahun ini.
Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke kediamannya Jumat (16/11) lalu, tampak sejumlah medali bergelantungan di lemari kaca. Di dalam lemari yang sama, beberapa piala juara ikut terpajang. Penghargaan itu dari berbagai level. Mulai tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Meski berbeda ajang, namun bidangnya sama. Yakni, sepak bola. Beberapa piala dan medali itulah, penghargaan yang berhasil dikumpulkan Hanif –sapaan akrabnya –. Hanif memang seorang pesebak bola belia. Meski usianya masih 12 tahun, namun kiprahnya jangan dipandang sebelah mata. Penghargaan tingkat lokal hingga nasional pernah disabetnya.
Bahkan, baru-baru ini ia berhasil membawa timnya, SSB Bulog Surabaya, menjadi juara pertama di Singapura. Menariknya lagi, di ajang yang sama, ia mendapat dua penghargaan sekaligus. Selain pemain terbaik, ia juga menjadi top skor dengan 10 gol yang dicetaknya dalam ajang tersebut.
Di dampingi sang ayah, Agusman, Hanif menceritakan pengalamannya bertanding di Singapura. Semua itu berawal dari kecintaannya dengan dunia sepak bola. “Sejak TK, Hanif memang sering menonton kakaknya, Rizki bermain bola. Berangkat dari situ, kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh,” ungkap Agusman, ayah Hanif saat ditemui di rumahnya.
Hanif mulai menekuni dunia sepak bola saat duduk di bangku TK B. Ayahnya mendaftarkan putra keempatnya itu di SSB Aro Porong. Latihan demi latihan bola ditempanya di SSB yang ada di Porong, Sidoarjo, tersebut.
Hingga kelas empat kemudian, Hanif akhirnya memilih pindah SSB. Ia memilih untuk menimpa ilmu sepak bola di SSB Mandiri FC Wonokoyo. Saat di SSB Mandiri FC itulah, ia mulai mengikuti turnamen. Ketika itu, ada turnamen Danone di Malang. Saat hendak berlaga, ia nyaris dibuat kecewa berat. Pasalnya, oleh panita ia dilarang ikut karena usianya dinilai masih sangat muda.
“Yang boleh ikut kelahiran 2004. Sementara Hanif kelahiran 2006. Jadi, dia yang paling muda. Makanya, pihak penyelenggara sempat melarangnya. Namun, karena pelatih memaksa, akhirnya Hanif diperkenankan untuk ikut,” kisah Agus –sapaannya- lagi.
Ketika itu, Hanif menjadi pemain inti. Ia berposisi sebagai gelandang penyerang. Sayangnya, saat itu timnya tidak bisa berbuat banyak. Karena di babak delapan besar, tim SSB Mandiri FC harus tumbang. Kegagalan itu, sempat membuat Hanif kecewa. Namun, kekecewaan itu akhirnya berangsur pudar. Karena dari situlah, ia berhasil menunjukkan penampilannya. Dari situ pula penampilannya dilirik tim SSB lain.
“Ternyata, Hanif dilirik oleh SSB Bulog Surabaya. Hanif pun gabung dengan SSB tersebut,” tambah Agus. Kesempatan semakin besar, setelah Hanif bergabung dengan SSB Bulog Surabaya.
Ketika itu, ada seleksi dari Milo di Kodam Brawijaya Surabaya. Ia ikut serta bersama 500 anak lainnya. Hasilnya mengagumkan. Ia menjadi satu-satunya anak yang lolos seleksi. Ia pun dijanjikan untuk terbang dan berlatih di Barcelona. “Sayangnya, hingga sekarang belum jelas,” urai dia.
Bersama SSB Bulog Surabaya pula, berbagai turnamen diikutinya. Dari turnamen tersebut, tak sedikit yang akhirnya berbuah piala. Seperti saat ia berlaga dalam ajang Putra Arisa Junior Leage di Semarang. Tak hanya mengantar timnya menang, Hanif juga mendapati predikat sebagai pemain terbaik.
Prestasi terbaik yang diraih Hanif saat ini, ketika ia mengikuti kompetisi Okky Splash. Perjuangannya itu, dimulai ketika timnya mengikuti babak penyisihan, bulan Mei 2018 lalu. Ada 32 tim yang berpartisipasi di tingkat Jatim. Termasuk timnya, SSB Bulog Surabaya. Mereka saling beradu kekuatan untuk bisa lolos ke babak berikutnya. Hasilnya, timnya memenangi laga di Karangpilang, Surabaya, itu.
Ia bersama rekan-rekannya pun terbang ke Jakarta untuk mewakili Jatim di tingkat nasional. Di Jakarta, ada enam tim yang bertanding. Selain timnya, ada dari Bandung, Jakarta, Semarang, dan tim dari luar Jatim lainnya. Pertarungan sengit itu, benar-benar memuaskan untuk Hanif. Karena ia berhasil mengantar timnya juara. “Hanif sempat cetak gol juga. Tapi, lupa berapa jumlahnya,” ulas ayah Hanif.
Kemenangan itu pun menjadikan bocah yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri 1 Bangil tersebut masuk 16 pemain terbaik. Ke-16 pemain itu, merupakan hasil seleksi yang dilakukan pelatih timnas, Indra Syafri.
Para pemain itu dipilih sebagai persiapan untuk ajang Singa Cup 2018 di Singapura. Laga itu sendiri, dilangsungkan 4 November hingga 9 November 2018. Ada pengalaman menarik yang didapatkan Hanif ketika hendak berangkat. Ia nyaris gagal terbang, setelah mengalami cedera di tangannya.
“Hanif sempat jatuh saat bermain bola. Padahal, kejadian itu berlangsung dua hari sebelum ke Singapura. Ibunya, Rini Sulistyowati bahkan sempat menangis tak tega dengan kondisi Hanif,” tutur Agus melanjutkan.
Untungnya, cedera itu tak begitu bermasalah. Hanif tetap bisa berangkat dan berlaga. Di Singapura, ada 32 tim hebat yang berlaga. Selain dua tim dari Indonesia, ada pula tim dari Australia, Malaysia, tuan rumah Singapura, Guam Amerika, Filipina, hingga Thailand.
Di kompetisi Singa Cup itu, Hanif bersama timnya bertemu tim-tim kuat. Laga diawali dengan pertemuannya dengan Guam. Tim dari negara bagian Amerika itu, berhasil ditundukkan dengan skor telak, 11-0. Timnya pun lolos ke babak berikutnya. Di babak berikutnya, timnya bertemu Filipina. Hasilnya cukup memuaskan. Karena timnya, berhasil menundukkan Filipina dengan skor 7-0.
Kemenangan itu, mengantarkan timnya bertemu dengan Malaysia. Malaysia pun berhasil ditundukkan. Skornya 2-0. Saat masuk semi final, tim Hanif bertemu dengan tim Indonesia lainnya, yakni Bandung Pro United. Drama pun terjadi. Ketika itu, terjadi kejar-kejaran gol.
Bahkan, laga harus dilalui dengan babak tambahan lantaran skor imbang 2-2. Pertandingan itu pun hampir dilalui dengan adu penalti. Namun, Hanif mampu mengubah keadaan. Eksekusi tendangan mati di luar kotak penalti mampu diselesaikan dengan baik.
Ia melesakkan si kulit bundar dan mengecoh penjaga gawang lewat tendangan melengkungnya. Gol itu pun membawa timnya unggul, yang membuat timnya lolos ke final menghadapi tuan rumah Singapura. “Saya tidak percaya bisa mencetak gol kemenangan. Saya nangis. Teman-teman langsung memeluk saya,” kata Hanif menceritakan suasana saat dirinya mencetak gol penentu tersebut.
Di final, dukungan suporter tuan rumah begitu semarak. Namun, tak serta merta membuat timnya grogi. Buktinya, mereka berhasil bermain dengan cemerlang. Bahkan, bisa menumbangkan Singapura dengan skor telak, 5-0.
Hasil itu pun mengantar ia dan timnya menjadi juara. Kemenangan itu pula membawa prestasi tersendiri untuknya. Karena pihak penyelenggara, menobatkannya sebagai pemain terbaik. Kepiawaiannya dalam mencetak gol, juga membuatnya diganjar predikat sebagai top skor.
Menariknya lagi, bocah yang berangan-angan bisa menjadi pemain timnas itu berpeluang untuk bisa berlatih di Portugal. “Saya disuruh nunggu panggilan. Karena rencananya, akan ada training cup di Portugal. Dan, saya akan diundang ke sana,” ungkap Hanif yang mengaku ingin mendapatkan dukungan motivasi dari Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf tersebut. (fun) Editor : Jawanto Arifin