IWAN ANDRIK, Beji
Maulana Jalaludin Rumi, 17, ingat betul detik-detik akhir babak penyisihan. Ketika itu, ia dan dua rekannya, M. Haydar Montazeri, 18 serta Khfidz Nur Huda, 18, tertinggal poin dari tim-tim yang lain. Sampai lomba menyisakan beberapa pertanyaan, timnya kemudian mengejar ketertinggalan poin itu.
Hingga tinggal menyisakan satu pertanyaan pungkasan. Pertanyaan itu adalah pertanyaan tambahan untuk penentuan pemenang yang lolos ke babak selanjutnya. “Kami sangat berdebar-debar. Kami sempat terlambat pencet tombol, sehingga dapat kesempatan menjawab terakhir,” kata Jalaludin –sapaan akrabnya-.
Menurut Jalaludin, pertanyaan terakhir itu memang cukup membingungkan. “Apa yang ada di depanmu, tapi tidak pernah bisa kelihatan,” begitu pertanyaan dewan juri. Pertanyaan itu, sempat dijawab oleh tiga tim yang lain. Jawabannya pun berbeda-beda. “Ada yang menjawab malaikat dan jawaban lainnya. Tapi, semuanya salah. Kami kemudian menjawab udara. Ternyata, jawaban itulah yang benar,” terang remaja asal Lampung tersebut.
Kisah itulah yang menjadi sepenggal cerita pengalaman Jalaludin kala melakoni perlombaan cerdas cermat menggunakan bahasa Arab di UIN Malang. Ia mengaku senang bisa menjadi salah satu juara. Namun, ia juga sedikit kecewa lantaran tak bisa membawa pulang juara pertama.
“Kami juara kedua. Ada perasaan senang dan bangga karena kejuaraan itu kami raih untuk tingkat nasional. Namun, ada perasaan kecewa juga. Sebab, kami tidak bisa menjadi juara pertama,” ungkapnya yang diamini rekan-rekannya.
Menurut Jalaludin, perjuangan untuk meraih juara dalam kejuaraan tersebut tidaklah mudah. Ia dan timnya harus bersusah payah. Hingga gelar juara kedua itu mereka bawa pulang ke Pasuruan.
Kisahnya bermula saat adanya pengumuman lomba cerdas cermat di UIN Malang. Kejuaraan tingkat nasional itu, digelar 14 Oktober hingga 18 Oktober 2018. Sebelum lomba diikuti, mereka juga mengikuti penjaringan di tingkat sekolah.
Dari puluhan siswa, mereka akhirnya menjadi salah satu tim yang diberangkatkan ke Malang. “Ada empat tim yang diberangkatkan ke Malang. Termasuk kami, yang akhirnya membawa pulang juara,” katanya. Persiapan yang hanya berlangung sekitar dua minggu itu, tak membuat mereka rendah diri. Meski sempat ada perasaan grogi. Mereka tetap berusaha untuk tampil percaya diri.
“Perasaan grogi pastinya ada. Tapi, kami berusaha santai dengan cara minum kopi di kantin kampus,” tuturnya lagi. Jalaludin menguraikan, ada 40 tim yang menjadi peserta. Mereka harus mengikuti tahapan demi tahapan untuk kemudian masuk final. Diawali dengan babak penyisihan. Saat itulah, timnya sempat tertinggal.
Hingga akhirnya mereka bisa mengejar tim yang lain dan lolos ke babak semifinal. Di babak ini, tim lawan semakin tangguh-tangguh. Buktinya, tak satu pun kebagian menjawab soal di babak pertama. Begitupun dengan di babak kedua. Dari tujuh soal, hanya dua soal yang bisa mereka rebut. Selebihnya, digondol tim lain.
“Kami tertinggal jauh. Kami kalah cepat tekan tombol,” jelasnya. Hingga di babak ketiga itulah, mereka akhirnya mencapai titik balik. Di babak ketiga ini, soal-soal semakin sulit. Hal ini pula yang menjadi kesempatan bagi timnya. Karena tim lawan, tak secepat sebelumnya saat menekan tombol.
Beberapa pertanyaan mampu dijawab, meski sempat ada keragu-raguan. Bahkan, salah satu di antaranya salah. “Namun untungnya, kami nyaris menjawab seluruh pertanyaan yang poinnya lebih tinggi dibanding babak kedua dan pertama. Sehingga, kami mampu mengejar tim yang lain. Bahkan, skor akhir tim kami berhasil menjadi yang paling tinggi,” bebernya.
Dari situlah, timnya berhasil lolos ke final. Di final, mereka bertemu dengan tim-tim kuat. Tim yang dihadapi itu adalah Ponpes Bata-bata Pamekasan, Madura; MAN 2 Malang dan timnya.
Menurut Jalaludin, di sinilah keseruannya. Saling kejar angka tak bisa terhindarkan. Hingga 25 soal dibacakan. Hasilnya, Ponpes Bata-bata Pamekasan, Madura menjadi paling tinggi, dengan 900 poin. Sementara timnya dan tim MAN 2 Malang mendapatkan hasil sama, 800 poin.
Persamaan poin itu membuat soal tambahan diluncurkan. Sempat ada perdebatan, hingga akhirnya soal dibatalkan. Karena tidak diumumkan sebelumnya, kalau tim Ponpes Bata-bata tidak lagi boleh menjawab lantaran sudah pasti juara pertama.
“Perdebatan panas sempat terjadi. Ketika pertanyaan berkaitan dengan bab salat tanpa wudu. Tapi, akhirnya dibatalkan karena pertanyaan itu tidak diumumkan hanya untuk tim kami dan tim MAN 2 Malang,” sambung kelahiran 28 April 2001 tersebut.
Hingga pengkhususan pertanyaan itu diumumkan. Dan timnya, berhasil menjawab pertanyaan. Saat itulah, timnya kemudian dinyatakan menjadi juara kedua.
Kejuaraan itu, memberi pengalaman tersendiri bagi M. Haydar Montazeri. Menurutnya, sorak-sorai penonton bergemuruh ketika tim lawan yang dari Malang, menjawab pertanyaan. Namun, suasan hening, begitu timnya yang menjawab. “Kami sempat canggung. Karena suasana berbeda ketika kami jawab pertanyaan. Tidak ada sorak-sorai dukungan, seperti tim yang lain,” tuturnya.
Kepala SMA Al Ma’hadul Islami YAPI Bangil Ustad Mukmin menjelaskan, prestasi tersebut merupakan hal yang membanggakan. Terlebih, dalam momen Hari Santri. Ia menambahkan, jika bukan hanya prestasi di bidang cerdas cermat yang diraih siswanya.
Ada beberapa kejuaraan lain yang berhasil membawa piala. Seperti juara satu dalam lomba Nasyid atau lagu Islami tingkat Provinsi di Surabaya serta juara tiga dalam ajang kompetisi film SMK dan SMA sederajat Jawa-Bali beberapa waktu lalu. (rf) Editor : Jawanto Arifin