Kreativitas Komunitas Omah Kembang Pasuruan yang Hasilkan Rupiah dari Suvenir

Berawal dari keinginan untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa, komunitas Omah Kembang terbentuk. Komunitas ini membuat sejumlah suvenir untuk dijual dan dipasarkan di Pasuruan.

———————–

Beberapa lelaki dan perempuan duduk membentuk lingkaran di sebuah ruangan berukuran 4×6 meter itu. Mereka sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Ada yang menggunting pita, memotong plastik, dan ada pula yang mengukur kain flanel. Bahan ini lantas dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi buket bunga untuk wisuda.

Pemandangan ini bisa dilihat tiap pekan, saat komunitas Omah Kembang berkumpul untuk membuat suvenir. Ketua Komunitas Omah Kembang Laily Rochmatin mengungkapkan, komunitas ini terbentuk pada 2017. Mayoritas anggota yang mengikuti komunitas ini adalah santri Ponpes Ngalah, Purwosari.

Ide membentuk komunitas ini berawal dari keinginan untuk memiliki kegiatan khusus usai lulus sekolah. Dari sini muncullah ide menciptakan beragam kerajinan. Sehingga, dibentuklah Omah Kembang.

“Dari sini, kami mulai membuat suvenir. Mulai dari buket bunga, bandana, hingga gantungan kunci,” ungkapnya.

RUTIN BERKUMPUL: Komunitas ini sering berkumpul tiap sepekan sekali. (Foto: Istimewa)

 

Keunikan dari karya komunitas Omah Kembang adalah membuat buket bunga dari kain flanel. Selain itu, semua anggotanya masih kuliah.

Laily sendiri masih kuliah di Universitas Yudartha Purwosari. Menurutnya, suvenir yang dibuat lantas dijual ke teman-teman mereka sesama mahasiswa.

Saat ini, pesanan memang paling banyak berasal dari Pasuruan. Namun, dirinya pernah mendapat pesanan dari luar Pasuruan. Yaitu, Sumatera dan Jakarta.

Harganya untuk pemesan dari luar Jawa sama. Mulai Rp 8 ribu hingga Rp 200 ribu. Bergantung pada kerumitan dan bahan yang digunakan. Selanjutnya, untuk pemesan dari luar Jawa, dibebani ongkos kirim ke alamat tersebut.

Suvenir ini bisa dipesan secara langsung. Namun, jika mereka ingin pola atau corak yang berbeda, pemesan bisa menunggu proses pengerjaan sekitar dua sampai tiga hari.

Bagi yang ingin memesan, mereka bisa menghubungi melalui media sosial. Yakni, akun Instagram Omah Kembang. Pihaknya pasti akan segera merespons setiap pesan yang masuk.

Request sesuai keinginan pemesan juga bisa. Cuma karena tenaga terbatas, harus menunggu,” jelasnya.

Saat ini anggota aktif komunitas ini berjumlah lima orang. Mereka merupakan teman satu kelas di jurusan dan universitas yang sama.

Wanita yang mengambil jurusan administrasi publik ini mengaku, kendala yang dialami oleh Omah Kembang karena tidak ada offline store. Sementara banyak pelanggan yang menanyakannya.

Rata-rata pelanggan ingin melihat varian produk secara langsung. Dan sejauh ini, pihaknya belum bisa mewujudkan permintaan itu.

Selama ini lokasi yang digunakan untuk membuat suvenir ini adalah tempat kos miliknya di Purwosari. Ia bersama temannya biasanya kumpul setiap hari Minggu.

Wanita kelahiran Desa Arjosari, Kecamatan Rejoso, ini menyebut, dalam sebulan, omzet yang dicapai Omah Kembang cukup banyak. Pihaknya bisa menerima order hingga 20 buah. Total omzet yang diperoleh sekitar Rp 1 juta.

Angka ini bisa meningkat pada pertengahan tahun dan awal tahun. Sebab, pada waktu ini banyak mahasiswa yang wisuda dan ada pula yang menikah.

Wanita kelahiran 1997 ini berharap ke depannya, pihaknya bisa semakin mengembangkan Omah Kembang. Tidak hanya melayani areal Pasuruan saja, namun juga luar kota dan pulau.

“Kami masih terkendala kesibukan kuliah masing-masing. Mudah-mudahan usai lulus bisa lebih fokus,” pungkasnya. (riz/hn/fun)