2 Siswa MTsN Kota Probolinggo Raih Juara Pertama Lomba Robotik Tingkat Nasional

Mochamad Zainul Arifin dan Naufal Ahmad kini diliputi perasaan bahagia. Dua siswa MTsN Kota Probolinggo itu baru saja meraih juara 1 Kompetisi Robotic Kemenag ke V. Ada upaya keras yang mereka hadapi sebelum memenangi kompetisi itu.

———————–

Bahkan, upaya itu sudah dilakukan keduanya sebelum mereka berangkat mengikuti kompetisi, pertengahan November silam. Salah satunya saat mereka berlatih. Latihan itu juga masih ada rekamannya.

Jawa Pos Radar Bromo sempat melihat rekaman video singkat. Dalam rekaman tersebut tergambar jelas, robot pemilah sampah buatan Mochamad Zainul Arifin dan Naufal Ahmad bergerak dengan lancar di atas lembaran vinyl bergambar jalur.

Robot yang memiliki semacam 2 tangan mengangkat bongkahan kotak warna cokelat. Tidak lama kemudian, robot itu kembali berjalan dengan otomatis. Sempat melewati beberapa pos berwarna biru, namun tetap berjalan. Sampai akhirnya robot tersebut berhenti di pos berwarna merah. Bongkahan kotak tersebut kemudian ditempatkan dalam pos warna merah.

Video ini menggambarkan secara singkat proses kerja robot pemilahan sampah yang dikembangkan keduanya. Mochamad Zainul Arifin dan Naufal Ahmad tidak merancang robot. Melainkan membuat program yang menggerakkan robot tersebut.

“Perlu waktu 1 minggu untuk menyelesaikan pembuatan program robot pemilah sampah ini,” ujar Moch Zainul Arifin, salah satu siswa yang ikut serta dalam lomba robotik.

Lamanya proses pembuatan ini karena Zainul dan Naufal harus menyusun program sesuai dengan perintah untuk robot tersebut. Misalnya, perintahnya adalah mengangkat sampah berwarna merah dan ditempatkan di titik berwarna merah, maka robot harus bisa bergerak sesuai perintah tersebut.

“Kalau yang di video beda untuk jenis sampahnya. Kalau saat lomba perintahnya sampah warna merah, ditempatkan di pos warna merah,” ujar putra pasangan Yuliana dan Abdur Rahman.

Dalam lomba ini, Zainul dan Naufal masuk dalam kategori robot pemilah sampah. Yang membuat keadaan tidak diduga adalah kedua pelajar ini mendapat kesempatan pertama untuk mulai lomba.

RIBET: Robot yang didalamnya sudah berisikan program dari ciptaan Naufal dan Zainul. (Foto: Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Sebelumnya kami mendapat soal dikerjakan selama 4 jam. Pekerjaan selama 4 jam itu kami membuat program sesuai soal. Setelah selesai programnya, baru diuji cobakan. Apakah sudah sesuai dengan perintah soal atau tidak,” ujar Naufal.

Yang bikin deg-degan, kata Naufal, mereka harus tampil untuk pertama kali. Jadi, pasti jadi tontonan peserta lain juga.

Dalam lomba robotik untuk kategori Robot Pemilah Sampah, ada 29 peserta yang ikut. Para peserta ini satu persatu menampilkan kebolehan program robot yang dibuatnya.

“Saingan paling berat itu dari MTs Negeri 1 Malang. Tapi, Alhamdulillah kami berhasil menang,” ujar Naufal.

Naufal dan Zainul tidak mengira tim MTs Negeri Kota Probolinggo bisa menang. Saat diumumkan timnya menang, keduanya langsung loncat kegirangan. “Gak nyangka. Langsung saya loncat pas disebut juara 1,” ujar putra Pasangan Titin Roediyah dan Soewarno.

Sementara itu, Malik Marzuki, guru pendamping robotik MTsN Kota Probolinggo menjelaskan bahwa siswanya yang mengikuti ekskul robotik seperti Naufal dan Zainul, harus memahami bahasa pemrograman dan wajib mengerti dasar-dasar elektronika.

“Mereka yang ikut lomba ini tantangannya adalah membuat program yang seharusnya dikerjakan dalam 1 minggu. Tapi, dalam lomba ini program harus dibuat dengan soal yang ditentukan hanya dalam waktu 4 jam,” ujarnya.

Bahkan, saat lomba soal pun bisa berubah tergantung dari panitia. Maka, peserta lomba mau tidak mau harus mengubah program yang dibuatnya.

Selama lomba, Zainul dan Naufal dijauhkan dari pendamping dan ponsel. Mereka harus bener-benar fokus mengerjakan soal yang dibuat. “Selain itu, juga dilarang ada komunikasi antara pendamping dengan peserta lomba. Di sinilah akan diketahui apakah program tersebut memang buatan dari siswa tersebut atau program itu buatan pendamping,” ujarnya.

Sementara itu, Tanwin, kepala MTs Negeri Kota Probolinggo menjelaskan bahwa dalam lomba robotik yang diselenggarakan Kemenag di Surabaya pada 16-17 November itu ada 3 kategori. Kategori rancang bangun, otomasi, dan robot pemilah sampah.

Harga robot yang disiapkan sekolah ini tidak kepalang tanggung. “Yang paling mahal ini adalah komponen ini (Micro Controller Arduina X Mega). Sampai Rp 7 juta untuk komponen ini, ini otak robot,” jelasnya.

Malik menjelaskan bahwa bagian tersebut bernama Micro Controller Arduina X Mega. Komponen ini yang menjadi otak robot. “Kalau dalam komputer ini adalah bagian dari prosesor,” jelasnya. (fun)