Wuih, Ada yang Tawarkan Umrah hingga Bagi-Bagi Uang, Inilah Strategi Cakades saat Kampanye

Namanya pertarungan, pasti ada kalah dan menang. Begitupun untuk kontestasi kepala desa. Untuk bisa terpilih menjadi kepala desa, para calon kepala desa (cakades) menyiapkan strateginya masing-masing.

——————

Ada yang mencari simpati masyarakat dengan kegiatan sosial. Ada pula yang jualan program, bahkan sampai iming-iming umrah dan “bom-boman” uang.

Kepala Desa Tambakan, Kecamatan Bangil, Khoiri mengaku, mengandalkan masa kepemimpinannya sebagai kades sebelumnya. Ia yakin, status sebagai incumbent akan mendorong warga untuk memilihnya kembali. Karena banyak program yang sudah dijalankannya bermanfaat bagi masyarakat.

“Sebagai strategi, kami juga akan membantu warga dalam penyertifikatan tanahnya. Sebab, tanah di sini masih banyak yang belum memiliki sertifikat,” tuturnya.

ilustrasi

Lain dengan Khoiri, mantan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Mujibudda’awat mengandalkan support untuk desa selama ia menjadi wakil rakyat. Ia mengaku, banyak pembangunan di desanya yang telah direalisasikan ketika ia menjabat anggota dewan.

 

“Saat menjadi anggota dewan, banyak aspirasi pembangunan yang saya salurkan untuk Desa Lumbangrejo. Itu, akan menjadi modal saya untuk menarik pemilih,” sambungnya.

Bukan hanya berjualan program. Ada pula yang lebih ekstrem dengan memberikan hadiah umrah. Seperti yang dilakukan M. Savi’i, calon kepala Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi.

Savi’i mengaku, ingin membuat sebuah kegiatan kampanye yang berbeda. Hal ini tak lain agar mendapat perhatian warga. Cara yang dilakukannya yaitu jalan sehat berhadiah umrah.

“Kami memang ingin ada yang berbeda. Ya, dengan memberikan hadiah umrah ini,” ceritanya.

Namun begitu, ia meyakinkan kalau apa yang dilakoninya, bukan semata menggunakan dana pribadi. Ia mengaku mendapat sponsor dari salah satu anggota DPRD Jawa Timur yang masih saudaranya.

“Saya tidak danai sendiri. Ada yang bantu. Saudara saya anggota dewan. Kebetulan juga ingin bertemu warga di sini,” tandasnya.

Tak semuanya hanya berjualan program. Karena kenyataannya ada pula yang memilih cara bom-boman uang atau bagi-bagi uang. Salah satu cakades yang sempat ditanya Jawa Pos Radar Bromo mengaku, setidaknya harus menyiapkan Rp 100 ribu untuk setiap orang di desanya.

Dana itu diklaimnya untuk sumbangsih kepada warga. Jumlah itu bahkan tak seberapa, kalau dibandingkan pesaingnya. Pesaingnya bisa “ngebom” Rp 150 ribu per orang. “Niatkan amal juga,” akunya.

Waka Polres Pasuruan Kompol Supriyono menguraikan, bagi-bagi uang tersebut juga harus dicermati. Apakah memang ada unsur money politics atau hanya sekedar berbagi.

Ia menegaskan, penindakan tidak bisa dilakukan serta merta. Karena ada prosedur yang harus dilalui. Termasuk laporan dari panitia Pilkades.

Kan ada panitia di desa. Ada prosedurnya juga. Apakah kegiatan bagi-bagi uang itu bisa disebut money politics atau sekadar memberikan sumbangan,” pungkasnya. (one/hn/fun)