Ada 750 Cakades di Kab Pasuruan, 193 di Antaranya Incumbent, Pendidikannya SMP hingga S-2

Kursi kepala desa masih menggiurkan bagi sebagian orang, termasuk di Kabupaten Pasuruan. Terbukti, banyak orang yang ingin mendudukinya. Tak terkecuali para incumbent. Mereka rela mengeluarkan dana hingga ratusan juta rupiah untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Walaupun, sebenarnya penghasilan kepala desa tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan.

——————

Tahun ini Kabupaten Pasuruan menggelar pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di 240 desa. Jumlah itu susut dari rencana sebelumnya, yang diproyeksikan mencapai 243 desa. Salah satu penyebabnya, kekurangan bakal calon kepala desa (bacakades) atau tidak adanya bacakades yang lulus ujian akademis.

Dari 240 desa yang akan menggelar Pilkades itu, ada ratusan calon yang akan bertarung. Mereka akan berebut satu kursi di setiap desa penyelenggara. Yaitu, kursi kepala desa atau umumnya warga menyebut Pak Tinggi atau Pak Inggi.

Berdasarkan catatan Jawa Pos Radar Bromo, ada 750 bacakades yang akan berebut kursi Pilkades pada 23 November 2019. Jumlah itu berkurang dari sebelumnya. Awalnya, ada 863 orang yang mendaftarkan diri menjadi bacakades.Kenyataannya, sebagian dari mereka berguguran. Ada yang mundur, tak lulus administrasi, tak hadir saat sesi pemotretan, hingga gagal dalam uji akademis.

Dari segi pendidikan, cakades juga beragam. Rinciannya, yang mencatat hingga 247 orang; SMA-SMK sebanyak 338; MTs sebanyak 4 orang, MA sebanyak 5 orang, Kejar Paket B sebanyak 32 orang; Kejar Paket C sebanyak 43 orang; S-1 sebanyak 67 orang, S-2 sebanyak 11 orang dan pedidikan lain (D-3, D-4, Salafiyah) sebanyak 3 orang.

Tentu dari 750 bacakades itu, tidak semuanya wajah-wajah baru. Ada wajah-wajah lama yang ingin kembali “mengabdi” untuk masyarakat desa.

Dari 750 bacakades, sebanyak 193 orang merupakan incumbent. Sementara sisanya, 557 orang benar-benar pendatang baru atau mantan kades periode-periode sebelumnya yang ingin kembali maju.

Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Pasuruan Tri Agus Budiharto menuturkan, banyak incumbent yang maju dalam kontestasi Pilkades 2019. Berdasarkan izin cuti yang diajukan ke DPMD, ada 201kepala desa yang mengajukan izin karena mendaftar sebagai bacakades. Namun dalam perkembangannya, ada 193 incumbent yang ditetapkan menjadi calon kepala desa (cakades).

“Banyak incumbent yang mencalonkan diri lagi. Memang tidak semua desa, tapi hampir di semua desa,” tuturnya.

Beberapa hal jadi alasan incumbent mencalonkan lagi jadi kepala desa. Kebanyakan, karena ingin membangun desa lebih maju dan mensejahterakan warganya.

Seperti halnya yang diungkapkan Hariono, calon kepala desa asal Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang. Lelaki yang merupakan incumbent ini, mengaku masih memiliki pekerjaan yang belum terselesaikan. Seperti peningkatan pemberdayaan UMKM, pembangunan infrastruktur di desa, dan berbagai hal lainnya.

Hal inilah yang mendorongnya untuk kembali mencalonkan diri dalam Pilkades Serentak tahun ini. Supaya, program-program yang sudah berjalan bisa dilanjutkannya.

BANYAK: Calon Kades saat mengikuti deklarasi damai. (Dok. Radar Bromo)

 

“Saya juga mendapat dorongan dari masyarakat untuk maju. Itu yang mendasari saya untuk kembali maju,” ungkap dia.

Tak jauh berbeda dengan alasan Khoiri, incumbent asal Desa Tambakan, Kecamatan Bangil. Ia mengaku, banyak program-program di desanya yang sudah berjalan dengan baik. Ia ingin agar program-program yang sudah baik itu ditingkatkan agar menjadi lebih baik lagi.

“Kami ingin agar program yang sudah berjalan, bisa berlanjut demi kesejahteraan masyarakat desa,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Hasan Husni, incumbent asal Pateguran, Kecamatan Rejoso. Baginya, Desa Pateguran memiliki potensi luar biasa. Saat ini pihaknya tengah berusaha mengembangkannya. Baik sektor wisata dengan potensi hutan mangrove di tepi pantai, hingga pemberdayaan UMKM.

“Program-program tersebut sudah berjalan. Tapi, masih perlu dikembangkan. Karena itulah, kami berniat maju lagi untuk melanjutkan. Terlebih, banyak masyarakat yang meminta untuk maju,” sampainya.

Tak banyak berbeda dengan incumbent, calon kades pendatang baru juga mengusung visi yang sama. Yakni, untuk membuat desanya lebih maju dan masyarakatnya lebih sejahtera. Seperti yang diungkapkan Mujibudda’awat, calon kepala Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen.

Setelah gagal maju sebagai anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, ia ingin membangun desanya agar lebih maju lagi. Karena baginya, banyak potensi desa di Lumbangrejo yang bisa dimaksimalkannya. Khususnya dari sektor wisata.

“Kami ingin mengembangkan potensi desa. Seperti sektor wisata dikembangkan lebih maju lagi dengan dikelola BUMDes. Sehingga, bisa mendatangkan PAD untuk desa yang arahnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan tersebut.

Beda pandangan dengan para bacakades, dilontarkan Abu Bakar, wakil ketua Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan. Bang Ayub –sapaannya- menilai jabatan kepala desa masih dianggap seksi bagi kebanyakan orang. Apalagi, masyarakat di desa memandang kepala desa adalah pejabat yang paling bermartabat.

Bahkan, banyak masyarakat yang lebih percaya kepada kepala desa dibandingkan anggota dewan. “Inilah salah satu yang mendasari banyak orang untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Karena jabatan kepala desa itu dianggap masyarakatnya adalah pejabat tinggi. Semacam raja kecil atau bupati dengan lingkup yang kecil yakni desa,” tuturnya.

Selain itu, jabatan kepala desa merupakan jabatan bergengsi. Khususnya itulah anggapan masyarakat desa. Hal ini seperti pandangan Ketua AKD Kabupaten Pasuruan Agus Supriyono.

“Ada gengsi tersendiri menjadi kepala desa. Itu yang membuat banyak orang masih ingin jabatan tersebut,” pungkasnya. (one/hn/fun)