Santri MTs Negeri 1 Pasuruan Sabet Juara Satu Nasional Robotik Madrasah Berkat Ciptakan Alat Penyiram Otomatis

OTOMATIS: Rendi dan Nakhwah saat praktik alat penyiraman otomatis karya mereka di hadapan Kepala MTsN 1 Pasuruan Bustanul Arifin (berkopiah hitam) dan beberapa guru madrasah setempat. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Area persawahan di wilayah Grati, Kabupaten Pasuruan, yang kering, menginspirasi dua pelajar MTs Negeri 1 Pasuruan untuk mengembangkan alat serbaguna. Mereka merancang alat penyiram tanaman otomatis menggunakan solar cell berbasis arduino. Karya itu pun mengantar keduanya menjadi juara pertama dalam ajang Kompetisi Robotic Madrasah 2019 tingkat nasional di Surabaya.

————-

Waktu bergerak terasa begitu cepat bagi Muchammad Rendi, 13. Padahal, ia memastikan tak sampai lima menit menanti. Namun, rasanya bagaikan sudah satu jam berjalan.

Ia pun dibuat deg-degan. Keringat dingin bercucuran. Perasaannya benar-benar tak nyaman. Panel solar cell dari alat yang dirakit, tak kunjung berputar seperti yang diharapkan.

Perasaan khawatir mulai menyelimutinya. Takut-takut kalau alatnya gagal bekerja. “Tapi, Alhamdulillah, ketakutan itu berakhir ketika panel solar cell alat kami berputar. Kami pun akhirnya merasa lega,” ungkap pelajar kelahiran 19 Desember 2006 tersebut.

Bukan hanya Rendi yang merasa jantungan. Rekan satu timnya, Nakhwah Salsabela, 14, merasakan hal yang sama. Pelajar kelas VII MTs Negeri 1 Pasuruan yang dulu merupakam MTs Negeri 1 Bangil itu, dibuat spot jantung oleh alat yang mereka buat.

Perasaan dredeg itu, merupakan pengalaman mereka ketika mengikuti lomba robotik yang digelar oleh Direktorat Kurikulum Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama. Mereka benar-benar tak menyangka, bisa menjadi juara pertama dalam ajang Kompetisi Robotik Madrasah 2019 bertemakan Robots Save The Earth tersebut.

Padahal, banyak peserta lain yang karyanya bagus. Sehingga, yang membuat keduanya sempat pesimistis memenangi lomba Kategori MTs Rancang Bangun Mesin Otomatis Presentation di Grand City Mall Surabaya, 16-17 November 2019 tersebut.

“Bagi kami, ini merupakan sebuah hal yang membanggakan. Karena kami benar-benar tak menyangka bisa menang. Juara pertama lagi,” aku Rendi.

Mereka menang berkat alat penyiraman otomatis menggunakan solar cell berbasis arduino yang mereka buat. Ide pembuatan alat itu bermula ketika Rendi diajak pamannya ke suatu daerah yang ada di wilayah Grati, Kabupaten Pasuruan.

Ketika itu, ia melihat tanah petani setempat begitu lapang. Tidak ada tanaman padi, sehingga terlihat kering dan terbengkalai. Ia pun sempat bertanya ke petani setempat.

“Ternyata sawah tersebut memang tidak ditanami padi karena musim kemarau dan kesulitan untuk mendapatkan air,” kisahnya.

Ia pun melanjutkan perjalanan ke rumah pamannya tersebut. Hingga di rumah itulah, ia melihat akuarium. Dalam akuarium itu ada filter yang membuat air terus mengalir.

“Dari situlah, saya berpikir untuk bisa membuat alat yang memudahkan petani bercocok tanam,” ungkap remaja asal Jabon, Kabupaten Sidoarjo ini.

Sambil merenung, ia mengamati lampu-lampu yang ada di tepi jalanan. Lampu-lampu itu bisa menyala ketika malam hari. Padahal, tidak ada sambungan listrik PLN.

Lalu, dari mana lampu itu bisa menyala? Ia pun mencari jawabannya. Hingga akhirnya, ia menemukan kalau nyala itu diperoleh dari tenaga matahari yang diserap solar cell.

“Berangkat dari situ, saya kepikiran untuk membuat alat penyiram tanaman otomatis,” kenangnya.

Ide itu, kemudian dikonsultasikannya ke guru pembina robotik, Khoirul Anam. Akhirnya dibuatlah konsep untuk membuat penyiram otomatis tersebut. Konsep itu pula yang kemudian diajukan untuk mengikuti lomba.

Tim pun dibentuk. Rendi tidak sendirian. Ia bersama temannya, Nakhwah untuk merakit ide mereka.

Ternyata, tak mudah membuatnya. Beberapa kali percobaan ternyata hasilnya gagal. Mulai dari panel solar cell yang tak jalan, hingga air untuk penyiraman nggak sesuai yang diharapkan.

Mereka sempat mau menyerah. Namun, dukungan orang-orang sekitar, membangkitkan mereka. Hingga singkat cerita, alat penyiraman otomatis itu berhasil mereka buat. Lengkap dengan miniatur sawahnya.

Menurut Nakhwah, cara kerja alat tersebut ditentukan dengan dua tombol. Tombol satu untuk menerima tenaga dari panel surya ke baterai charger ke baterai Lipo. Kemudian dari komponen itu bisa memberikan tegangan kepada semua komponen.

Sedangkan tombol kedua, merupakan sistem untuk menghidupkan semua komponen. Mulai dari komponen penerima hingga mengeluarkan air secara otomatis.

“Di sini juga ada alat untuk merespons sensor kelembapan. Nilai kelembapannya bisa ditampilkan di web laptop atau smartphone. Begitu kelembapan di bawah 20 persen, maka sensor akan bekerja untuk melakukan penyiraman,” sampainya.

Putri dari Amrullah Aziz ini menambahkan, panel surya yang dipasang, juga bisa di-setting. Pen-setting-an ini dilakukan untuk memudahkan bila diterapkan di lapangan.

Setting-annya untuk mengatur kapan buka atau kapan tutup untuk menyerap energi matahari,” tutur dia.

Kepala MTs Negeri 1 Kabupaten Pasuruan Bustanul Arifin menuturkan, prestasi tersebut jauh dari target yang diancang-ancang. Karena awalnya, pihaknya menargetkan hanya juara tiga. Kenyataannya, bisa menyabet medali emas.

Persiapan kejuaraan tersebut sejatinya sudah dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kebetulan, di MTs Negeri 1 Kabupaten Pasuruan memiliki ekstra robotika.

“Kami melakukan seleksi. Hingga akhirnya dua anak itu yang terpilih,” jelasnya.

Semula, mereka memang sempat beberapa kali gagal. Bahkan, sempat ada wacana untuk mengganti siswa yang akan ikut lomba. Namun, akhirnya diputuskan tetap mereka yang berjuang.

Pihaknya tak menyangka, dua santrinya bisa menyabet emas. Karena pesaingnya sangat berat. “Bahkan ada yang presentasi menggunakan bahasa Inggris. Kami sempat down,” ulasnya.

Detik-detik lomba, juga menegangkan. Apalagi ketika panel surya tidak segera buka. Ia pun merasa spot jantung.

“Pas itu, saya merasa sudah gagal. Karena tidak kunjung buka solar cell-nya,” imbuhnya.

Lomba tersebut dilangsungkan hanya sekali. Santrinya mendapat giliran pertama. Di situ, ia dibuat kebingungan. Karena pertama sehingga tidak ada referensi seperti apa yang harus dilakukan.

Pihaknya sempat juga merasa juara itu lepas. Ketika nama madrasahnya tidak kunjung disebut saat pengumuman juara tiga dan dua. Namun, begitu juara pertama diumumkan, ia langsung tak berhenti mengucap syukur.

“Saya pikir tidak bisa mendapat juara dan hanya membawa pulang tangan hampa. Alhamdulillah, kami bisa mendapatkan juara. Dan satu-satunya di Kabupaten Pasuruan tahun ini,” sambungnya.

Ia menambahkan, terpenting lagi jika alat itu bisa dikembangkan. Karena konsepnya tidak hanya untuk sawah. Tetapi untuk tanaman lainnya. (one/hn/fun)