Pemain Persekap yang Belum Gajian Rela Penuhi Kebutuhan dari Liga Tarkam hingga Ngutang

Target Persekap lolos ke Zona Jawa di Liga 3 musim ini terpenuhi. Di arena pertandingan, para pemain tim berjuluk The Lasser itu bisa saja tampil prima di hadapan suporter. Di sisi lain, mereka juga tetap memikirkan tunggakan gaji guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

—————-

Obrolan ringan mengenai gaji yang menunggak memang seolah topik wajib bagi para pemain Persekap. Bahkan dalam senam bersama di sela-sela latihan beberapa waktu lalu. Gelandang Khoirul Anwar menjadi ledekan pemain lainnya.

Gerakan tubuh Khoirul kala itu memang lemas. Jauh dibandingkan instruktur senam yang begitu lincah. Sejumlah pemain lainnya menyebut Khoirul sedang gundah gulana. Lantaran sampai kini belum merasakan gaji. Khoirul pun hanya tersenyum menanggapinya.

Genap empat bulan sudah para pemain Persekap mengarungi kompetisi Liga 3. Selama ini, mereka telah bertanding 10 kali. Di putaran pertama babak 16 besar, ada delapan kali pertandingan. Kemudian dua kali pertandingan di putaran kedua.

Di tingkat regional, Persekap terbilang tim tangguh. Dari 10 pertandingan yang dilalui, hanya tercatat dua kali menerima kekalahan, dan dua kali seri. Selebihnya mereka mampu mengamankan poin penuh.

Salah satu pemain Persekap juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak. Yakni Andika Ramadani yang mengumpulkan delapan gol. Namanya berada di urutan kedua setelah pemain Persekabpas, Ricko Hardiansyah dengan 16 gol.

Kerja keras para pemain itu pula yang kemudian mengantarkan Persekap lolos ke Zona Jawa. Tentu, kali ini mereka juga akan banyak menemukan tantangan yang lebih berat. Tak kalah berat dengan angan-angan gaji yang belum terbayarkan selama empat bulan.

KEKELUARGAAN: Loyalitas para pemain Persekap patut diacungi jempol. Kekeluargaan di tim ini begitu kuat, sehingga pemain tetap maksimal membela tim. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Diakui atau tidak, kondisi itu justru membuat para pemain dilematis. Sebagai pemain, naluri mereka tentu mengejar prestasi. Namun urusan duit, juga tak bisa dikesampingkan begitu saja. Apalagi, sebagian pemain mengandalkan pendapatannya dari keringatnya di lapangan.

Lantaran kondisi itu, setiap pemain harus melakukan berbagai cara untuk menyambung hidup. Ada yang harus berhutang, ada pula yang bermain sepak bola antarkampung (tarkam). “Lumayan lah, sekali main kalau di Pasuruan Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu. Kalau di luar bisa Rp 400 ribu, ungkap sayap kiri Persekap,” Arie Handika.

Eks pemain Persipro itu kerap bingung kala istrinya bertanya soal gaji. Arie sendiri, harus tetap bertahan di Persekap dengan harapan gaji segera turun. “Namanya istri ya pasti tanya, tapi saya harus lebih tenang,” ujar pemain berusia 23 tahun itu.

Kapten tim Bayu Handika sedikit lebih beruntung karena punya pekerjaan utama. Setidaknya, masih ada yang bisa diandalkan terkait pendapatan. Namun, ayah dua anak itu menyebut, kebutuhan hidup terkadang seringkali tak terduga.

“Kalau kepepet, ya kasbon. Bagaimana lagi, karena memang gaji belum turun. Kalau ada bonus, itu juga dari pelatih, duit pribadi. Sekadar untuk makan atau pijat setelah tanding,” jelasnya.

Sementara, Awan Mahendra juga lebih getol ikut sepak bola turnamen antar kampung (tarkam) disela-sela kompetisi yang dilakoni Persekap. Pemain asal Surabaya itu bergabung dengan Persekap sejak musim lalu. Ketika Laskar Suropati bertengger di Liga 2.

Sedangkan Awan kini jarang pulang ke rumahnya. Ia tinggal di “mess” yang tak lain ialah rumah Ketua PSSI Askot Pasuruan. “Selama ini saya pulang cuma tiga kali. Itu setelah bonus dan hasil tarkam terkumpul. Biar bisa ngajak makan orang tua dan adik-adik di luar rumah,” ucap pemain berusia 21 tahun itu.

Meski kondisi finansial timnya kurang baik, Awan tak ragu kembali bergabung dengan Persekap. Ia mengaku, arek-arek Persekap sudah seperti saudaranya sendiri. Di samping itu, Awan juga menyimpan misi. Ia ingin tim kebanggaan Kota Pasuruan itu bisa kembali ke Liga 2.

“Musim kemarin saya masuk Persekap di Liga 2, masak setelah degradasi saya tinggal begitu saja?,” tuturnya.

Asisten Pelatih Persekap, Dwi Permana justru mengaku banyak belajar dari para pemain. Terutama, terkait loyalitas yang sudah dibuktikan dengan capaian sejauh ini. Dwi menyebut, semua pihak harus menyadari kondisi pemain sebenarnya begitu berat.

Karena itu, Dwi dan tim pelatih selalu berupaya membangun hubungan yang dirasa nyaman bagi pemain. “Menjadi sahabat dan motivator lebih tepat daripada menempatkan diri sebagai seorang pelatih untuk mereka,” terangnya.

Tim pelatih, kata Dwi, juga angkat topi dengan kerja keras timnya selama ini. Sekalipun, kemungkinan terburuk jika Persekap harus kandas di tengah kompetisi. “Apapun hasilnya nanti, lanjut atau gagal, mereka patut dihormati,” tandasnya. (tom/fun)